Showing posts with label alam. Show all posts
Showing posts with label alam. Show all posts

Sunday, November 12, 2017

#TurSingkat Akkarena



Lama tak ke Akkarena, tampilannya masih seperti dulu, biasa saja.

Akkarena adalah salah satu spot wisata pantai di kota Makassar. Dekat dengan pantai Losari, pantai Akkarena terkesan lebih privat daripada pantai Losari. Kesan privat karena mesti membayar (alias tidak gratis) untuk masuk ke tempat ini, beda dengan anjungan pantai Losari yang bebas merdeka masuk tanpa bayar. Jadi, bagi kamu yang tak mau diganggu pacaran oleh pengamen jalanan namun dengan modal pas-pasan, Akkarena adalah tempat yang pas.

Harga tiket masuk Akkarena tahun 2017 ini adalah 10 ribu untuk dewasa, 5 ribu untuk anak-anak, 5 ribu untuk parkir mobil, 2 ribu untuk parkir motor. Fasilitas pendukung seperti toilet dan musalla tersedia di Akkarena, kalau ini sudah include dengan tiket masuk.


Wisata apa di Akkarena? Secara umum adalah wisata pantai dan wisata kuliner. Pantai dengan pasir hitam, tempat mandi-mandi atau sekadar menikmati sunset bisa dilakukan disini. Selain itu, wisata kuliner di Akkarena terbilang lengkap. Aneka kuliner khas Makassar seperti pisang epe hingga jagung bakar ada disini, siapkan uang yang cukup saja. Belakangan, ada tempat outbond dan taman balon besar anak-anak dengan tiket masuk tersendiri, bayar lagi.


Selain itu, pantai Akkarena juga cocok dijadikan tempat foto-foto. Foto model hingga foto prawedding. Selain pantai dengan pasir hitamnya, dermaga kayu dan taman buatannya banyak digunakan sebagai spot foto. Kadang juga saya lihat adegan sinetron atau acara tv dilakukan disini.


Akhir pekan kemarin kami sengaja datang kesini, menemani Mama yang suntuk di rumah karena black out listrik padam se-SulSel. Pilihan jatuh ke Akkarena karena bosan ke mall. Mengenang romantisme masa lalu, Akkarena jadi salah satu tempat bersejarah bagi saya (dan kami). Ah sudahlah..

Monday, November 6, 2017

#SepedaMalas goes to Kuri Caddi



Matahari sudah menyembul sedikit di atas bukit, saya mengayuh sepeda dengan setengah semangat ke negeri antah berantah, Kuri Caddi.

Saya belum pernah sekalipun ke Kuri Caddi, namun foto-foto di Google Maps begitu menggoda untuk di jelajahi. Saya paham, kadang (kalau tak dibilang selalu) foto-foto di Google Maps (dan socmed secara umum) hanyalah foto-foto terbaik yang dipamerkan. Yah, narsis memang harus memamerkan yang baik-baik saja, biar kelihatan bahagia, bukan?



Selain paham soal betapa menyesatkannya foto-foto socmed, saya memang lagi mau gowes, mumpung hari libur, sendirian pula. Kalau sebelumnya saya gowes ke daerah pelabuhan perikanan Untia (PPI Untia) di Salodong sana, saya mau merasakan hal baru, walaupun google maps bilang Pantai Kuri Caddi itu jauh. Kalau PPI Untia sekitar 5 kilometer dari rumah, itupun saya pulang kesiangan sambil ngos-ngosan. Google Maps bilang jarak Pantai Kuri Caddi 15 kilometer dari rumah, atau tiga kali lipat PPI Untia! Saya bisa pulang kesorean, dan pingsan sebelum sampai rumah. Namun tekad sudah bulat, pagi itu saya tetap mengayuh sepeda dengan tujuan Pantai Kuri Caddi. Rencananya, pun kalau jam 7 pagi saya belum sampai, setang sepeda akan saya arahkan pulang.





Sekilometer dari rumah, saya sudah ngos-ngosan, kecepatan sepeda seperti orang berjalan saja. Maklum tak pernah olahraga, stamina tak terjaga. Di pinggir jalan tol, saya mengambil jalan pintas di kompleks pergudangan 88, jalan pintas yang belum pernah saya lalui juga. GMaps bilang jalur ini bisa memangkas perjalanan sejauh satu kilometer, lumayan. Bermodal GMaps ponsel, saya memberanikan diri menembus rimba gudang Makassar tersebut. Sampai di daerah Pattene, baru jam setengah tujuh. Saya lanjutkan gowes, lewat jalan beton dan aspal dua desa di Kecamatan Marusu. Tak terasa sudah jam 7, saya tiba di Desa Nisombalia, baru separuh jalan, prinsip “balik saat jam tujuh” tak berlaku lagi, berganti “sekali mengayuh sepeda, pantang setir mengarah pulang”.



Sampai di Kuri Lompo, saya sempat tersesat, ternyata Pantai Kuri Caddi mesti masuk gerbang dari seng yang saya pikir halaman rumah orang. Selain itu, jalan tanah dan berbatu jadi penggoyah semangat. Sempat singgah berpikir keras lanjut atau tidak. Saya khawatir ban pecah, digigit komodo (kadal besar), dibegal, atau diseruduk sapi. Namun tekad kembali kuat saat sepasang muda-mudi lewat naik motor setengah besar menghalau sapi yang memandangi saya dengan tatapan penuh nafsu, seakan baru melihat pangeran tampan naik sepeda.

Dengan ilmu meringankan tubuh, saya gowes melalui jalan ancoer tersebut. Sunyi, sepi sepanjang jalan. Saya menenangkan diri dengan mendengar musik lewat earphone. Hanya biawak besar yang saya sempat lihat melintas, untung dia kehilangan birahi saat saya lewat. Dua orang tua penduduk setempat yang lagi bergaul di tepi empang kemudian menegur dengan ramah. “Kemana Pak?”, saya jawab dengan was-was “Kuri Caddi Pak”. “Oh, lewat saja, masih jauh memutar”. Konon orang desa bilang “dekat”, itu berarti “dekat dikali dua” bagi orang kota. Lah ini bilang “jauh”, mati awak. Tapi saya masih percaya GMaps, tak ada signal modem Andromax, beruntung ada versi GMaps offline, saya keker jarak masih ada sekitar 700 meter. Entah berapa jembatan kayu rusak yang terlewati hingga akhirnya tiba di Pantai Kuri Caddi. Di Pantai Kuri Caddi, disambut dengan hangat oleh sapi-sapi yang lagi sarapan.


Kesan pertama saat tiba di Pantai Kuri Caddi hampir sama lah dengan yang di foto-foto socmed, lumayan indah. Salah dua ikon yang sering saya lihat di foto-foto orang adalah rumah kayu di bawah pohon yang berada di tepi pantai. Rumah singgah ini sudah tak terawat, sementara pantai lumayan bersih dengan pasir coklat. Pantainya berbentuk cekungan sehingga tak ada ombak yang menerpa pantai.





Ada beberapa anak yang mencari kerang dipinggir pantai. Tak berapa lama, ada juga dua goweser yang datang. Dengan sepeda gunung keren dan berhelm, mereka berfoto-foto juga. Sempat berkenalan, mereka baru pertama kali juga ke Kuri Caddi, mungkin gara-gara socmed juga. Mereka dari jalan Teuku Umar. Yu know dimana Teuku Umar? Dua kali jarak rumah saya! Mungkin saya memilih tidur di rumah daripada menempuh jarak sejauh itu. Mereka berdua dari komunitas sepeda UPBC, Ujung Pandang Bike Community. Ingin rasanya ikut komunitas sepeda juga, tapi yakinlah saja saya takkan pernah ngumpul. Saya memilih jadi pesepeda solo, pesepeda malas.

Setelah puas berkeliling dan berfoto, saya beli minum di warung yang ada disana. Sebagai pesepada malas, saya malas membawa bekal air minum dari rumah. Hanya orang-orang lemah yang membawa bekal air minum dari rumah. Hahahaha.. Yang punya warung ibu setengah baya yang sangat ramah. Kalau biasanya saya dipanggil “Pak” melihat perut yang membengkak ini, kali ini saya dipanggil “Nak”, sungguh saya kembali merasa muda beberapa detik. Setelah melepas dahaga, saya sempatkan ke kampung nelayan di Kuri Caddi. Seperti penampakan kampung nelayan kebanyakan, kampung ini terkesan “tak tertata” kalau tak mau dibilang jorok. Sampah dimana-mana, bukan sampah masyarakat, tapi mungkin sampah bawaan dari tengah laut.


Di beberapa bagian kampung, terutama antara lokasi wisata Pantai dengan kampung nelayan banyak kuburan, yang membuat suasana mistis dan sedikit angker. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Setelah puas berkeliling, saya membulatkan tekad untuk pulang, melewati jalan ancoer dan berliku kembali. Semoga sehat selamat pulang ke rumah.


Monday, July 3, 2017

Bebek Nasu Palekko Paling Enak



Dimana tempat makan bebek nasu palekko paling enak di dunia? Pertanyaan ini akan terjawab jika anda bertanya pada orang Pinrang, tempat asal muasal masakan bebek palekko. Karena penasaran, saat libur lebaran di Parepare kami sengaja ke Pinrang, mencari nasupalekko yang katanya paling enak sedunia. Tempatnya? Temukan lampu merah pertama saat masuk kota Pinrang, belok kanan hingga jembatan. Di sebelah kanan ramai mobil mengantri, konon kalau tidak pesan sebelumnya bisa 3 jam menunggu antrian. Malas mengantri, kami melewatkan tempat ini, di pertigaan belok kanan dan ditemukanlah warung dimaksud. Konon ini "hanyalah" bebek nasupalekko nomor dua terenak sedunia. Setelah mencoba, memang sangat enak.





Walaupun katanya bukan yang paling enak, saya rasa inilah bebek nasupalekko paling enak yang pernah saya makan. Bumbunya jauh berbeda dengan warung-warung yang ada di Makassar. Mungkin karena segar, bebeknya baru dipotong dan dimasak. Mungkin itu pulalah yang membuat pelanggan lama mengantri menunggu masakan tuntas dimasak. Beruntung, bunda Ulan punya teman orang Pinrang sehingga bisa pesan tempat walaupun sudah terlambat. Konon kalau mau enak makan di tempat yang katanya paling enak tadi mesti pesan tempat minimal sehari sebelumnya, saking banyaknya yang pesan. Namun walaupun enak, tak ada artinya kalau perut sudah lapar sangat baru diisi, apapun makanannya pasti akan terasa enak.



Namanya warung Arafah, dengan konsep lesehan di beberapa gazebo yang tersedia. Uniknya, gazebo ini berdiri di atas danau sehingga terkesan mengapung dengan semilir angin dari hamparan sawah. Selain itu, bebek/itik dibiarkan berenang di dekat warung, menambah suasana syahdu makan bebek. Entah berapa bebek yang berenang, banyak! Teringat film Chicken Run (saya bayangkan Duck Run) yang menunggu antrian disantap, tempat dimakannya pun sangat dekat dengan bebek yang masih hidup. Selain bebek ada beberapa menu yang lain. Namun karena tujuannya makan bebek, maka kami hanya memesan bebek nasupalekko. Berempat orang dewasa, kami makan tiga ekor bebek harga 70ribu per ekor. Alhamdulillah kenyang enak.


Monday, November 21, 2016

Syukur




Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
KehadiratMu Tuhan
Dari yakinku teguh
Cinta ikhlasku penuh
Akan jasa usaha
Pahlawanku yang baka
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan
Ke bawah duli tuan
Dari yakinku teguh
Bakti ikhlasku penuh
Akan azas rukunmu
Pandu bangsa yang nyata
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan
Kehadapanmu tuan

Friday, July 15, 2016

Wisata singkat Apparalang


Sekali layar terkembang, 
Pantang biduk surut ke pantai...

Mungkin itulah prinsip kami berwisata, khususnya pengalaman ke Apparalang libur lebaran edisi tahun ini.

Kami meninggalkan pantai Tanjung Bira sekira pukul 11 siang. Sebelum pulang ke Makassar, kami berniat singgah ke Apparalang. Bermodalkan google maps, kami menyusuri jalan sempit. Google maps bilang Apparalang dekat Bira, butuh sekitar 15 menit saja dari Bira. Ada dua jalur pilihan, pertama belok kanan langsung dari Bira sekitar 15 menit atau jalur kedua sekitar 20 menit. Kami memilih opsi jalur pertama yang lebih dekat dari Bira.


Setelah belok kanan, kami menyusuri jalan sempit, mesti ekstra hati-hati bila mobil berpapasan. Sekitar 5 menit kemudian sampailah kami di jalan curam nan terjal. Ada papan peringatan untuk berhati-hati menyusuri jalan. Sebelum kami ada mobil minibus parkir, menandakan sang sopir takut menuruni jalan. Kami ikut khawatir dan memarkir mobil di tepi jalan. Google maps bilang Apparalang tinggal 5 menit jalan kaki. Kami memutuskan jalan kaki menuruni jalan, meninggalkan mobil di atas bersama anak-anak dan tantenya yang ogah jalan kaki. Sebentar saja pikir kami.


Begitu menuruni jalan, kami mulai khawatir dibohongi google maps. Sudah lima menit berjalan kami belum sampai di tujuan. Namun kami telah membulatkan tekad, sekali jalan melangkah pantang wajah berbalik dan mundur kembali. Benar saja, sampai di pertigaan seorang pemandu jalan memberi isyarat kalau Apparalang masih jauh dan bisa lumpuh kalau ditempuh dengan berjalan kaki. Kami berembuk, mau mempercayai google maps atau pemandu jalan. Akhirnya kami memilih mempercayai pemandu jalan dan merental motornya yang terparkir di pinggir jalan. 


Motor recing bersuara binal ini akhirnya menemani sisa perjalanan kami ke Apparalang. Sang pemilik motor minta 20 ribu rupiah sebagai biaya rental motornya. Tanpa pikir panjang motor kami pinjam sewa dan meneruskan perjalanan. Ternyata Apparalang masih jauh, keputusan tepat menyewa motor.

Sampai di Apparalang, kami memarkir motor dan membeli tiket masuk. Harga tiket masuk Apparalang tahun 2016 sudah sepuluh ribu rupiah per orang. Tak mengapa mengingat perjalanan kami sudah serepot ini.



Sampai di Apparalang kami bisa menyaksikan pemandangan karang laut yang sungguh indah. Melihat ini saya teringat dengan pantai Uluwatu di Bali. Namun konon, ini mirip pemandangan Raja Ampat Papua. Banyak pengunjung di musim libur lebaran. Namun yang paling mengganggu adalah pasangan yang sedang sesi foto prawedding. Tak ada yang boleh mendekat mengambil foto di ujung dermaga. Pantai seakan milik mereka berdua saja.


Kami hanya kebagian di pinggir dermaga, mengambil beberapa foto karang dan selfie kami. Tak cukup lima menit kami naik kembali ke atas untuk kemudian pulang. Sungguh wisata yang sangat singkat. Namun prosesnya akan kami kenang selamanya.



Sunday, July 10, 2016

Liburan Lebaran 2016: tak jadi Toraja, Bira pun Jadi





Liburan lebaran tak melulu diisi silaturahmi,
Jadikan liburan seru dan menyenangkan bersama keluarga...

Idul Fitri 1437 H telah berakhir. Mungkin ini liburan lebaran paling seru dan menyenangkan. Jelang liburan cuti bersama lebaran, persiapan berwisata telah direncanakan. Opsi pertama adalah Tana Toraja (Tator). Kami belum pernah kesana padahal Toraja masih se-propinsi dengan tempat tinggal kami, Sulawesi Selatan. Tator adalah salah satu destinasi favorit Sulawesi Selatan, menyedihkan rasanya kami belum pernah kesana. Namun karena beberapa pertimbangan, kami urung ke Tator. Letaknya yang lumayan jauh (8 jam perjalanan dari kota Makassar) dengan membawa balita mengurungkan niatan kami ke Toraja. Belum lagi soal penginapan dan transportasi disana seandainya kami naik bus (pun kalau bus ada berhubung suasana lebaran).

Akhirnya kami batal ke Tator, dan mengalihkan tujuan wisata "hanya" ke pantai Tanjung Bira, yang "hanya" lima jam perjalanan dari Makassar. Sebelumnya kami pernah ke Bira, beberapa tahun lalu. Bira waktu itu sudah ramai pengunjung namun dengan fasilitas yang masih seadanya. Konon sekarang sudah beda dan jauh berkembang dengan fasilitas yang lengkap. Sebenarnya saya agak kecewa karena mengalihkan tujuan wisata dari Tator ke Bira, berhubung kami sudah pernah ke Bira.



Saya lebih menilai suatu perjalanan wisata dari prosesnya, bukan semata tujuannya. Perjuangan ke tempat wisata adalah suatu proses yang tak ternilai harganya, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Bagi saya perjalanan ke Bira merupakan pengalaman pertama saya mengemudikan mobil keluar daerah yang paling jauh dan lama. Bisa anda  bayangkan bagaimana "tegang" dan melelahkannya.

Kami memberanikan diri ke Bira naik mobil matic "pinjaman", hal yang lumayan meringankan pekerjaan kaki selama perjalanan. Tepat jam 9 pagi kami meninggalkan rumah, perjalanan lumayan lancar tanpa macet padahal suasana mudik lebaran. Isi bahan bakar mobil 220 ribuan, full tangki. Beberapa kali kami singgah melepas lelah. Membeli bekal di minimarket dan sarapan Bakso Raksasa di daerah Gowa, jajan jagung rebus di daerah Takalar, dan Shalat Jumat di daerah Jeneponto.

Bermodalkan peta google kami menyusuri jalan sejak Bantaeng hingga tengah kota Bulukumba. Meskipun pernah ke Bira, kami tidak tahu jalan kesana, jalan di kota Bulukumba banyak persimpangannya. Kami menahan lapar nasi di tengah perjalanan, takut kesorean dan tak dapat penginapan di Bira. Perjalanan dari kota Bulukumba ke Bira sekitar satu jam perjalanan.




Tepat jam setengah empat sore, kami tiba di Bira. Macet parah di depan pintu masuk, tak dapat parkiran di area wisata. Beruntung kami mendapat penginapan yang sementara kosong, Bira Beach Hotel, mungkin penginapan paling kesohor dan paling awal di Bira. Penginapan ini pernah saya tempati beberapa tahun lalu. Kondisinya semakin buruk, seakan tak terawat dari luar, tapi fasilitas lumayan ber-AC dan ber-WC dengan satu tempat tidur. Beberapa tahun lalu penginapan ini bertarif 200an ribu rupiah, tahun 2016 ini sudah 450 ribu rupiah semalam. Lumayan murah dibanding tempat lain yang berfasilitas minim, selain lokasinya yang paling strategis di tepi pantai.



Ada sebuah resort elit di Bira, Hakuna Matata, resort baru yang berdiri megah di atas karang pantai Bira. Saya lupa dan tak perhatikan, sepertinya sebelum adanya resort ini, penginapan yang dikelola penduduk Bira berdiri berjejer di atas karang Bira. Kantong kami tak familiar untuk menyewa resort ini, kami hanya menikmati suasana sore dari restoran hotel yang juga lumayan mahal namun mengenyangkan.



Pemandangan pantai Bira dari atas karang resort ini sungguh menawan. Pantai Bira semakin indah dengan hamparan pasir putihnya. Saya dan si kecil sempat berendam sejenak di tepi pantai sebelum istirahay jelang malam. Suasana malam di pantai Bira lumayan meriah, dengan kios-kios buah tangan yang masih buka hingga malam, acara keluarga, hingga riuhnya suara petasan. Saya lelah bawa mobil, segera terlelap begitu ketemu tempat datar.




Pagi menyapa, kami berendam di tepi pantai. Ponsel dan kamera kami tinggalkan di kamar, hanya ingin bersenang-senang menikmati pantai, tak ingin diganggu gadget. Jadinya, moment main air tak terabadikan lewat foto, hanya di ingatan. Selain main air, kami naik banana boat. Tarif seratus ribu sekali main. Kami naik hanya bertiga, dua anak-anak kami tinggalkan sebentar main pasir. Kami selesai main air jam 9an, bersiap cekout kamar dan ke destinasi selanjutnya, pantai Apparalang.


Tuesday, February 23, 2016

Gerhana matahari total, momen sekali seumur hidup


Sungguh beruntung bisa menyaksikan gerhana matahari total
momen ini sekali seumur hidup, kecuali anda berumur sangat panjang


Pada 9 Maret 2016, sebagian besar Pasifik, meliputi Indonesia, Malaysia, dan negara-negara lainnya di Asia Tenggara dan benua Australia akan dapat menyaksikan gerhana matahari parsial. Sebagian wilayah di Indonesia bahkan bisa menyaksikan gerhana matahari total (GMT). Ya, hanya di Indonesia!

Gerhana matahari total dianggap sebagai salah satu fenomena alam paling mengesankan yang terjadi di bumi.  Kalau anda pernah nonton film Apocalypto yang berkisah tentang suku Maya, anda akan melihat salah satu adegan gerhana matahari total yang menjadi klimaks cerita.

Gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara bumi dan matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya matahari. Walaupun bulan lebih kecil, bayangannya mampu melindungi cahaya matahari sepenuhnya karena jarak bulan ke bumi lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi.


GMT 2016 sangat istimewa bagi Indonesia karena satu-satunya negara daratan yang dilewati dan bisa menyaksikan fenomena alam langka ini. Tidak ada negara lain di dunia yang bisa melihatnya. Gerhana matahari total 2016 adalah peristiwa langka. Bahkan bisa dikatakan pengalaman 'sekali seumur hidup'.

Bagi masyarakat dunia, gerhana matahari adalah peristiwa yang sangat langka. Di Indonesia fenomena ini pernah dinikmati pada 1980-1990. Saat itu ada 3 GMT yang melewati Indonesia. Yang paling populer pada 11 Juni 1983, jalur totalitasnya melintasi pulau Jawa. Sayangnya, sekian banyak GMT yang dapat dinikmati tersebut seperti berlalu begitu saja setelah usai. 

Setelah GMT 2016, sampai tahun 2100 masih ada 5 GMT yang melintasi Indonesia. Yang paling dekat 20 April 2023, akan terlihat di Nusa Tenggara Timur dan Papua Barat. Salah satu peristiwa langit yang akan terjadi tahun ini adalah gerhana matahari total (GMT). Meski GMT 2016 bisa disaksikan di 12 Provinsi, hanya 9 titik yang dipilih menjadi pusat pengamatan, yaitu: Jembatan Ampera, Palembang; Pulau Bukulimau; Pantai Tambak; Bukit Tangkiling; Gumbasa, Palu; Desa Kalora, Poso; Parigi Moutong; Desa Tomoli; Pulau Plum, Maluku Utara.

Saat GMT 2016 nanti, bayangan bulan meliputi area seluas 100-150 km, hanya di 11 provinsi. Penduduk di 11 provinsi tersebut berpeluang melihat matahari yang gelap gulita. Suasananya mirip senja jelang malam hari. Apalagi kejadiannya pada pagi hari, ketika potensi mendung berkurang. Warga di wilayah Indonesia barat bisa menyaksikan fenomena tersebut pada pukul 07.30 WIB, sementara di wilayah tengah Nusantara pada pukul 08.35 Wita, dan wilayah timur pada pukul 09.50 WIT. Wilayah Indonesia lainnya akan mengalami gerhana sebagian, termasuk Makassar.

Ini adalah pengalaman yang mungkin sekali seumur hidup. Peristiwa gerhana matahari total bukan kali pertamanya terjadi di Indonesia. Fenomena itu pernah ada pada tahun 1983, 1988, dan 1995. Namun, gerhana matahari total 2016 adalah yang pertama terjadi pada Abad ke-21 di Indonesia. Gerhana matahari berikutnya akan terjadi di Indonesia pada 2019 walaupun bukan GMT tapi GMC (Gerhana Matahari Cincin). Sementara, gerhana matahari total berikutnya baru melintas di wilayah Nusantara pada 20 April 2023. Gerhana matahari total adalah peristiwa langka. Tak diketahui periode pasti fenomena tersebut akan terjadi dan berulang di satu daerah. Hanya ada hitungan pola 18-19 tahun, sesuai dengan periode Saros atau siklus gerhana. Namun, jalurnya berbeda.

Berdasarkan perhitungan kasar, gerhana matahari total hanya akan terjadi sekitar 300 tahun sekali di satu daerah. Wilayah Sumatera Selatan dan Bangka termasuk yang beruntung, kejadian terakhir pada 1988 dan berulang pada 2016, jadi hanya 28 tahun. Oleh karena itu, fenomena gerhana matahari total adalah kesempatan bagi para peneliti untuk melakukan sejumlah riset. Riset tersebut terkait fisika matahari maupun fisika umum, pun kajian dampak dan keantariksaan. Juga sering dijadikan pembuktian teori relativitas Einstein. Bahwa suatu benda bisa membelokkan cahaya. Saat gerhana matahari total, perubahan perilaku hewan juga diperkirakan akan terjadi, terutama pada binatang malam. Walau hanya beberapa menit saat gerhana matahari total terjadi, kondisi tiba-tiba gelap seolah malam akan membuat hewan terutama binatang malam bereaksi, akan terjadi perubahan perilaku. Gerhana juga penting sebagai sarana edukasi publik, salah satunya menjelaskan pada siswa tentang prosesnya.

Pada saat gerhana total adalah paling bagus melihat langsung. Tanpa kaca mata, tak perlu pakai filter, asal berhati-hati. Yang paling riskan adalah peralihan fase total ke fase sebagian, saat bulan mulai bergeser, cahaya matahari yang walau baru muncul sedikit sudah sangat kuat. Padahal, pupil mata kita sedang membesar. Hal itu bisa merusak retina.

Karena cepatnya peredaran bumi mengitari matahari, gerhana matahari tak mungkin berlangsung lebih dari 7 menit dan 58 detik jadi jika ingin melihatnya lakukan sesegera mungkin dengan pelindung mata khusus. Walaupun gerhana matahari termasuk momen yang paling mengesankan, mengamati gerhana matahari membutuhkan pelindung mata khusus atau dengan menggunakan metode melihat secara tidak langsung. Melihat secara langsung ke fotosfer matahari (bagian cincin terang dari matahari), bahkan hanya dalam beberapa detik, dapat mengakibatkan kerusakan permanen retina mata karena radiasi tinggi yang tak terlihat yang dipancarkan dari fotosfer. Kerusakan yang ditimbulkan dapat mengakibatkan kebutaan. Kaca mata sunglasses tidak aman untuk digunakan karena tidak menyaring radiasi inframerah yang dapat merusak retina mata. 

Ketika gerhana Matahari sedang berlangsung, umat Islam yang melihat atau mengetahui gerhana tersebut disunnahkan untuk melakukan salat gerhana (salat khusuf).