Showing posts with label catatan perjalanan. Show all posts
Showing posts with label catatan perjalanan. Show all posts
Monday, November 6, 2017
#SepedaMalas goes to Kuri Caddi
Matahari sudah menyembul sedikit di atas bukit, saya mengayuh sepeda dengan setengah semangat ke negeri antah berantah, Kuri Caddi.
Saya belum pernah sekalipun ke Kuri Caddi, namun foto-foto di Google Maps begitu menggoda untuk di jelajahi. Saya paham, kadang (kalau tak dibilang selalu) foto-foto di Google Maps (dan socmed secara umum) hanyalah foto-foto terbaik yang dipamerkan. Yah, narsis memang harus memamerkan yang baik-baik saja, biar kelihatan bahagia, bukan?
Selain paham soal betapa menyesatkannya foto-foto socmed, saya memang lagi mau gowes, mumpung hari libur, sendirian pula. Kalau sebelumnya saya gowes ke daerah pelabuhan perikanan Untia (PPI Untia) di Salodong sana, saya mau merasakan hal baru, walaupun google maps bilang Pantai Kuri Caddi itu jauh. Kalau PPI Untia sekitar 5 kilometer dari rumah, itupun saya pulang kesiangan sambil ngos-ngosan. Google Maps bilang jarak Pantai Kuri Caddi 15 kilometer dari rumah, atau tiga kali lipat PPI Untia! Saya bisa pulang kesorean, dan pingsan sebelum sampai rumah. Namun tekad sudah bulat, pagi itu saya tetap mengayuh sepeda dengan tujuan Pantai Kuri Caddi. Rencananya, pun kalau jam 7 pagi saya belum sampai, setang sepeda akan saya arahkan pulang.
Sekilometer dari rumah, saya sudah ngos-ngosan, kecepatan sepeda seperti orang berjalan saja. Maklum tak pernah olahraga, stamina tak terjaga. Di pinggir jalan tol, saya mengambil jalan pintas di kompleks pergudangan 88, jalan pintas yang belum pernah saya lalui juga. GMaps bilang jalur ini bisa memangkas perjalanan sejauh satu kilometer, lumayan. Bermodal GMaps ponsel, saya memberanikan diri menembus rimba gudang Makassar tersebut. Sampai di daerah Pattene, baru jam setengah tujuh. Saya lanjutkan gowes, lewat jalan beton dan aspal dua desa di Kecamatan Marusu. Tak terasa sudah jam 7, saya tiba di Desa Nisombalia, baru separuh jalan, prinsip “balik saat jam tujuh” tak berlaku lagi, berganti “sekali mengayuh sepeda, pantang setir mengarah pulang”.
Sampai di Kuri Lompo, saya sempat tersesat, ternyata Pantai Kuri Caddi mesti masuk gerbang dari seng yang saya pikir halaman rumah orang. Selain itu, jalan tanah dan berbatu jadi penggoyah semangat. Sempat singgah berpikir keras lanjut atau tidak. Saya khawatir ban pecah, digigit komodo (kadal besar), dibegal, atau diseruduk sapi. Namun tekad kembali kuat saat sepasang muda-mudi lewat naik motor setengah besar menghalau sapi yang memandangi saya dengan tatapan penuh nafsu, seakan baru melihat pangeran tampan naik sepeda.
Dengan ilmu meringankan tubuh, saya gowes melalui jalan ancoer tersebut. Sunyi, sepi sepanjang jalan. Saya menenangkan diri dengan mendengar musik lewat earphone. Hanya biawak besar yang saya sempat lihat melintas, untung dia kehilangan birahi saat saya lewat. Dua orang tua penduduk setempat yang lagi bergaul di tepi empang kemudian menegur dengan ramah. “Kemana Pak?”, saya jawab dengan was-was “Kuri Caddi Pak”. “Oh, lewat saja, masih jauh memutar”. Konon orang desa bilang “dekat”, itu berarti “dekat dikali dua” bagi orang kota. Lah ini bilang “jauh”, mati awak. Tapi saya masih percaya GMaps, tak ada signal modem Andromax, beruntung ada versi GMaps offline, saya keker jarak masih ada sekitar 700 meter. Entah berapa jembatan kayu rusak yang terlewati hingga akhirnya tiba di Pantai Kuri Caddi. Di Pantai Kuri Caddi, disambut dengan hangat oleh sapi-sapi yang lagi sarapan.
Kesan pertama saat tiba di Pantai Kuri Caddi hampir sama lah dengan yang di foto-foto socmed, lumayan indah. Salah dua ikon yang sering saya lihat di foto-foto orang adalah rumah kayu di bawah pohon yang berada di tepi pantai. Rumah singgah ini sudah tak terawat, sementara pantai lumayan bersih dengan pasir coklat. Pantainya berbentuk cekungan sehingga tak ada ombak yang menerpa pantai.
Ada beberapa anak yang mencari kerang dipinggir pantai. Tak berapa lama, ada juga dua goweser yang datang. Dengan sepeda gunung keren dan berhelm, mereka berfoto-foto juga. Sempat berkenalan, mereka baru pertama kali juga ke Kuri Caddi, mungkin gara-gara socmed juga. Mereka dari jalan Teuku Umar. Yu know dimana Teuku Umar? Dua kali jarak rumah saya! Mungkin saya memilih tidur di rumah daripada menempuh jarak sejauh itu. Mereka berdua dari komunitas sepeda UPBC, Ujung Pandang Bike Community. Ingin rasanya ikut komunitas sepeda juga, tapi yakinlah saja saya takkan pernah ngumpul. Saya memilih jadi pesepeda solo, pesepeda malas.
Setelah puas berkeliling dan berfoto, saya beli minum di warung yang ada disana. Sebagai pesepada malas, saya malas membawa bekal air minum dari rumah. Hanya orang-orang lemah yang membawa bekal air minum dari rumah. Hahahaha.. Yang punya warung ibu setengah baya yang sangat ramah. Kalau biasanya saya dipanggil “Pak” melihat perut yang membengkak ini, kali ini saya dipanggil “Nak”, sungguh saya kembali merasa muda beberapa detik. Setelah melepas dahaga, saya sempatkan ke kampung nelayan di Kuri Caddi. Seperti penampakan kampung nelayan kebanyakan, kampung ini terkesan “tak tertata” kalau tak mau dibilang jorok. Sampah dimana-mana, bukan sampah masyarakat, tapi mungkin sampah bawaan dari tengah laut.
Di beberapa bagian kampung, terutama antara lokasi wisata Pantai dengan kampung nelayan banyak kuburan, yang membuat suasana mistis dan sedikit angker. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Setelah puas berkeliling, saya membulatkan tekad untuk pulang, melewati jalan ancoer dan berliku kembali. Semoga sehat selamat pulang ke rumah.
Monday, July 3, 2017
Bebek Nasu Palekko Paling Enak
Dimana tempat makan bebek nasu palekko paling enak di dunia? Pertanyaan ini akan terjawab jika anda bertanya pada orang Pinrang, tempat asal muasal masakan bebek palekko. Karena penasaran, saat libur lebaran di Parepare kami sengaja ke Pinrang, mencari nasupalekko yang katanya paling enak sedunia. Tempatnya? Temukan lampu merah pertama saat masuk kota Pinrang, belok kanan hingga jembatan. Di sebelah kanan ramai mobil mengantri, konon kalau tidak pesan sebelumnya bisa 3 jam menunggu antrian. Malas mengantri, kami melewatkan tempat ini, di pertigaan belok kanan dan ditemukanlah warung dimaksud. Konon ini "hanyalah" bebek nasupalekko nomor dua terenak sedunia. Setelah mencoba, memang sangat enak.
Walaupun katanya bukan yang paling enak, saya rasa inilah bebek nasupalekko paling enak yang pernah saya makan. Bumbunya jauh berbeda dengan warung-warung yang ada di Makassar. Mungkin karena segar, bebeknya baru dipotong dan dimasak. Mungkin itu pulalah yang membuat pelanggan lama mengantri menunggu masakan tuntas dimasak. Beruntung, bunda Ulan punya teman orang Pinrang sehingga bisa pesan tempat walaupun sudah terlambat. Konon kalau mau enak makan di tempat yang katanya paling enak tadi mesti pesan tempat minimal sehari sebelumnya, saking banyaknya yang pesan. Namun walaupun enak, tak ada artinya kalau perut sudah lapar sangat baru diisi, apapun makanannya pasti akan terasa enak.
Namanya warung Arafah, dengan konsep lesehan di beberapa gazebo yang tersedia. Uniknya, gazebo ini berdiri di atas danau sehingga terkesan mengapung dengan semilir angin dari hamparan sawah. Selain itu, bebek/itik dibiarkan berenang di dekat warung, menambah suasana syahdu makan bebek. Entah berapa bebek yang berenang, banyak! Teringat film Chicken Run (saya bayangkan Duck Run) yang menunggu antrian disantap, tempat dimakannya pun sangat dekat dengan bebek yang masih hidup. Selain bebek ada beberapa menu yang lain. Namun karena tujuannya makan bebek, maka kami hanya memesan bebek nasupalekko. Berempat orang dewasa, kami makan tiga ekor bebek harga 70ribu per ekor. Alhamdulillah kenyang enak.
Sunday, July 2, 2017
Libur Lebaran di Bili-bili
Wisata kuliner di Bili-bili adalah salah satu opsi tempat liburan lebaran keluarga yang bisa jadi pilihan. Menurut Googlemaps, Bili-bili berjarak 22 kilometer yang dapat ditempuh dengan mobil selama 43 menit dari Jl. Hertasning Baru, perbatasan Makassar Gowa. Menu favorit di Bili-bili adalah ikan air tawar seperti ikan Nila (bakar atau goreng) dari beberapa warung makan disana. Sebenarnya rasa ikan di semua warung adalah sama saja, yang membedakan adalah racikan sambelnya. Saya lupa nama warungnya, tapi telah ada warung langganan kami yang selalu ramai pengunjung. Letaknya sekitar warung ketiga dari ujung jalan. Masakannya enak, murah, meriah, tahun ini harganya 40ribu perorang.
Kami mendapatkan warung ini setelah sebelumnya dikecewakan oleh "warung abal-abal". Awalnya kami ke wiskul Bili-bili langsung pergi saja tanpa tanya saran orang yang sudah pernah kesana. Kami langsung masuki sembarang warung yang menawarkan tempat parkir. Kami seperti dibodoh-bodohi dengan masakan tidak enak dan mahal. Saat itu Papaboss yang nraktir membayar lebih sejuta untuk 10an orang. Karena kekecewa, ketemulah warung murah meriah enak yang sampai saat ini jadi langganan kami. Namun saran saya, sebelum ke Bili-bili, hubungi pemilik warung terlebih dahulu untuk reservasi tempat apalagi di masa liburan, pasti tempat penuh. Tahun ini kami pun kehabisan tempat dan "dialihkan" ke warung sebelah.
Selain wisata kuliner, suasana di Bili-bili sangat tenang, damai, dan asri. Pemandangan bendungan seperti danau dengan semilir angin sepoi-sepoi membuat pikiran tenang, dilupai utang. Anda dapat bercengkrama dengan santai bersama keluarga sambil memancing ikan. Kail dapat disewa di beberapa warung. Selain makan sambil memancing, saat ini ada perahu bebek-bebek yang disewakan keliling pulau kecil di tengah danau. Anak-anak pasti sangat senang naik perahu bebek-bebek ini. Dengan tarif 20ribu per orang sekali jalan, lumayanlah bisa membahagiakan si kecil. Tak terhitung sudah berapa kali saya ke Bili-bili, pertama kali bersama mantan pacar dengan motor, selanjutnya bersama keluarga. Enaknya sih kalau anugra, anu gratis.
Friday, December 30, 2016
2016 best none photography
JANUARI. Ini kali kedua saya menjejak Surabaya, dulu ke Tunjungan Plaza sekarang ke Tugu Pahlawan. Awalnya naik motor pinjaman ke stasiun Sidoarjo kota, lalu naik kereta komuter, terus naik becak ke Pasar Turi lanjut ke Tugu Pahlawan. Semuanya dengan bantuan peta google. Sungguh pengalaman yang mengesankan, sampai lupa kalau sedang sakit gigi yang baru dicabut dari akarnya, sampai lupa pengalaman pertama ke Kota Gresik di rumah mertua, sampai lupa pengalaman pertama ke Kota Batu dengan Jatim Park-nya, sampai lupa kalau ada om tersayang yang meninggal sehari setelah tahun baru tiba yang tak sempat saya layat. Awal tahun yang sibuk dan mengesankan.
FEBRUARI. Saya senang memotret apa saja, kapan saja, dengan kamera apa saja. Bunga adalah salah satu objek yang menarik untuk dipotret, difoto, diabadikan. Foto paling awal tadi buktinya, ditambah foto kedua ini. Saya lupa memotret bunga putih ini dimana, sepertinya di sekitaran kampus Unhas saat berusaha jogging. Sungguh Allah Maha Pengasih, memberi saya mata yang masih mampu melihat dengan baik, tanpa bantuan kacamata. Semoga mata ini sehat terus sampai masanya tiba, bisa dipakai melihat keindahan ciptaan-Nya. Bayangkan saja bagaimana galaunya bila mata ini bermasalah, tak mau melihat dengan baik. Yang jelas, ongkos memelihara mata sehat lebih murah daripada mengobati mata sakit.
MARET. Dari perhitungan para ahli astronomi, mungkin inilah satu-satunya gerhana matahari yang bisa saya lihat seumur hidup, itupun gerhana matahari sebagian. Karenanya, saya berusaha mengabadikannya. Masalahnya, saya tak punya kamera dan alat mumpuni agar bisa membuat foto gerhana matahari yang bagus, bagus bagi saya berarti gambar matahari yang besar, dan orang lain bisa mengetahui kalau itu memang "gerhana matahari" tanpa penjelasan dari pemotret. Dengan penuh kesederhanaan, saya foto gerhana matahari ini dengan filter kaca tukang las dan "tripod alami". Pada bulan ini juga jadi pengalaman pertama saya ke Bekasi yang konon jaraknya lebih jauh daripada matahari. Yah Bekasi memang jauh sih.
APRIL. Selain foto bunga, foto lansekap juga saya sukai. Bila ada kesempatan berada di ketinggian seperti di lantai atas hotel, pemandangannya pasti saya foto. Walaupun mungkin sebagian orang yang melihat saya akan bilang "kampungan". Masalahnya kemudian adalah menghasilkan foto yang tajam dan fokus. Biasanya bila memotret dari dalam kamar hotel akan ketemu kaca jendela yang mungkin agak kotor dan memantulkan cahaya dari dalam. Belum lagi bila hanya mengandalkan lengan, tanpa tripod yang membuat hasil foto tidak fokus. Trik sederhana saya adalah membersihkan kaca jendela sebelum memotret dan menempelkan ponsel kamera pada kaca jendela. Hasilnya? Tak bagus-bagus juga sih. Yang penting usaha.
MEI. Sudah pernah disengat tawon? Jika belum, anda beruntung. Rasanya sangat sakit, perih. Katanya. Mungkin rasa sakit inilah yang dirasakan Sar saat tersengat tawon. Saya pernah memegang tali jemuran, lalu merasakan ada sesuatu yang menusuk, rasa sakitnya begitu cepat menembus otak. Kemungkinan saat itu saya tersengat tawon. Sarang tawon sebesar kepala hinggap di depan rumah. Kami mulai terganggu dengan aktivitas tawon yang makin lama makin banyak. Opsi terakhir adalah mengusirnya dengan menghancurkan sarangnya. Namun menghancurkan sarang tawon tak semudah mendorong mobil mogok, konon butuh pemadam kebakaran membantu aksi. Namun kami tak sabar, membongkar sarang tawon dengan jas hujan, masker, dan sapu.
JUNI. Rutinitas sehari-hari kadang membosankan, tak ada kejadian. Namun bulan puasa tahun ini membawa berkah dan cerita tersendiri. Saya seumur-umur baru merasakan yang namanya pelatihan di bulan puasa, jelang lebaran pula. Pagi hingga sore rasanya berat menerima materi pelatihan, karena sambil menahan lapar dan dahaga. Kalau pelatihan di dalam kota, saya tak memanfaatkan fasilitas akomodasi pelatihan. Saya mending pulang tidur bersama anak istri. Jelang buka puasa saya memacu motor pulang ke rumah, melewatkan buka puasa bersama di tempat pelatihan, sahur juga. Ada saat kami sekeluarga buka puasa bersama di mall, menyeruput teh tarik ternikmat yang pernah saya rasa. Ini dia tampilannya.
JULI. Liburan lebaran kali ini kami habiskan di daerah Bira-Apparalang. Kalau ke Bira saya sudah pernah walaupun sudah lama, kalau ke Apparalang baru kali ini. Selain itu, jadi menarik karena pengalaman pertama bawa kendaraan pinjaman dengan jarak jauh, tanpa sopir pengganti. Seperti biasa, kawasan wisata pantai Bira masih tetap seeksotis yang dulu, namun dengan banyak pembenahan dari segi fasilitas penginapan mewah. Pengalaman pertama ke pantai Apparalang jadi pembeda. Jalan kaki dan rental motor dadakan tak membuat semangat kami surut ke Apparalang. Gara-gara peta google tak akurat, kami berjalan kaki cukup jauh. Namun suasana Apparalang yang keren membuat rasa lelah kami terobati.
AGUSTUS. Suasana pedesaan Bantimurung selalu enak dinikmati. Pun dengan sawah kering dan sapinya dengan latar gunung karst yang menjulang. Untuk kesekian kali saya ke Bantimurung, bukan dengan tujuan berwisata, tapi investigasi KLB. Kalau dulu pernah ada KLB Campak, sekarang kasus keracunan pangan. Ada laporan keracunan pangan menimpa tiga bocah cilik, karena mengkonsumsi permen yang ditengarai kadaluarsa. Beruntung, ketiga korban tertangani dengan baik di puskesmas dan rumah sakit sehingga tidak menimbulkan kematian. Saya bertugas menginvestigasi penyebab pasti keracunan dan agar tidak terjadi penyebaran kasus. Selain investigasi, foto-foto menjadi gerakan tambahan yang wajib. Melihat sapi-sapi bahagia ini, saya berharap mereka tak terkena Antraks.
SEPTEMBER. Kami kedatangan anggota keluarga baru, seekor kucing persia putih, kami beri nama Oh Love (baca: Olaf). Baru kali ini saya memelihara kucing, pernah ikan dan kura-kura namun gagal. Saya malas memelihara hewan berkaki dua atau empat karena malas ribet dan takut terjangkit penyakit hewan. Selain itu, biaya pemeliharaan kucing tergolong tidak murah, makanannya lebih mahal dari makan saya. Bagaimana juga dengan pasir tempat buang hajatnya? Saya malas memikirkannya. Saya tipikal orang yang senang melihat-lihat hewan, tapi tak mau mengurusnya. Mungkin kebun binatang adalah tempat yang cocok buat saya. Namun karena rengekan Khal, saya luluh dan menerima kucing pemberian teman Sar.
OKTOBER. Bulan ini sungguh bulan yang berat bagi keluarga kami. Khal jatuh sakit, awalnya muntah-muntah kemudian diare. Kami sangat khawatir, dan melarikan Khal ke UGD rumah sakit. Dokter mendiagnosa muntaber dengan diare berdarah, konon karena protein tinggi dari susu dan es krim yang terakhir khal makan. Muntah tak terhitung jumlahnya, diare pun demikian. Kami khawatir karena Khal tak mau makan, badannya tambah kurus. Beruntung, dokter menangani dengan sangat baik. Kami di rumah sakit selama sekitar empat hari (saja), tentu dengan biaya yang tidak sedikit. Saya mbatin, bagaimana dengan orang yang merokok? Membeli rokok untuk sakit, buang puntung sembarangan, jadi sampah rakyat.
NOVEMBER. Alangkah bahagianya keluarga yang tiap hari bisa bereuni. Susah senang asal bersama, nikmatnya dunia. Quotes slank nya "Makan nggak makan asal kumpul". Bayangkan saja kalau kita LDRan dengan pasangan dan atau anak tersayang, sakitnya tuh di telinga, tiap hari menelepon lama demi menyambung tali silaturahmi. Foto ini menampilkan keceriaan anak yang dibimbing selalu sama bundanya. Kebetulan kami keluarga sehat, bereuni bersama dalam Temu Alumni Besar yang merupakan gelaran pertama (dan mungkin satu-satunya) tahun ini. Semoga kebersamaan keluarga senantiasa kita lalui, demi anak cucu kita. Namun kebersamaan menjadi pengecualian bagi motor dinas, motor plat merah yang setia menemani akhirnya diambil orang.
DESEMBER. Ada yang datang, ada yang pergi. Semoga yang datang adalah kebahagiaan dan harapan, yang pergi adalah kesedihan dan penyesalan. Teramat banyak hal menyenangkan, sungguh celakalah saya bila tak pandai bersyukur. Di dekat rumah ada destinasi wisata yang baru, tempat pelelangan ikan! Yang sebelumnya di tengah kota dipindah ke pinggir kota, jauh, tapi dekat dengan rumah. Diresmikan langsung oleh pak presiden beberapa waktu lalu, kami datangi beberapa hari kemudian. Banyak yang berubah, bertambah baik tentunya. Kalau orang nomor satu atau dua negeri ini mau datang, pasti fasilitas diperbaiki, minimal akses jalan ke lokasi diperbaiki. Selamat datang di tempat wisata baru kami.
Friday, July 15, 2016
Wisata singkat Apparalang
Sekali layar terkembang,
Pantang biduk surut ke pantai...
Mungkin itulah prinsip kami berwisata, khususnya pengalaman ke Apparalang libur lebaran edisi tahun ini.
Kami meninggalkan pantai Tanjung Bira sekira pukul 11 siang. Sebelum pulang ke Makassar, kami berniat singgah ke Apparalang. Bermodalkan google maps, kami menyusuri jalan sempit. Google maps bilang Apparalang dekat Bira, butuh sekitar 15 menit saja dari Bira. Ada dua jalur pilihan, pertama belok kanan langsung dari Bira sekitar 15 menit atau jalur kedua sekitar 20 menit. Kami memilih opsi jalur pertama yang lebih dekat dari Bira.
Setelah belok kanan, kami menyusuri jalan sempit, mesti ekstra hati-hati bila mobil berpapasan. Sekitar 5 menit kemudian sampailah kami di jalan curam nan terjal. Ada papan peringatan untuk berhati-hati menyusuri jalan. Sebelum kami ada mobil minibus parkir, menandakan sang sopir takut menuruni jalan. Kami ikut khawatir dan memarkir mobil di tepi jalan. Google maps bilang Apparalang tinggal 5 menit jalan kaki. Kami memutuskan jalan kaki menuruni jalan, meninggalkan mobil di atas bersama anak-anak dan tantenya yang ogah jalan kaki. Sebentar saja pikir kami.
Begitu menuruni jalan, kami mulai khawatir dibohongi google maps. Sudah lima menit berjalan kami belum sampai di tujuan. Namun kami telah membulatkan tekad, sekali jalan melangkah pantang wajah berbalik dan mundur kembali. Benar saja, sampai di pertigaan seorang pemandu jalan memberi isyarat kalau Apparalang masih jauh dan bisa lumpuh kalau ditempuh dengan berjalan kaki. Kami berembuk, mau mempercayai google maps atau pemandu jalan. Akhirnya kami memilih mempercayai pemandu jalan dan merental motornya yang terparkir di pinggir jalan.
Motor recing bersuara binal ini akhirnya menemani sisa perjalanan kami ke Apparalang. Sang pemilik motor minta 20 ribu rupiah sebagai biaya rental motornya. Tanpa pikir panjang motor kami pinjam sewa dan meneruskan perjalanan. Ternyata Apparalang masih jauh, keputusan tepat menyewa motor.
Sampai di Apparalang, kami memarkir motor dan membeli tiket masuk. Harga tiket masuk Apparalang tahun 2016 sudah sepuluh ribu rupiah per orang. Tak mengapa mengingat perjalanan kami sudah serepot ini.
Sampai di Apparalang kami bisa menyaksikan pemandangan karang laut yang sungguh indah. Melihat ini saya teringat dengan pantai Uluwatu di Bali. Namun konon, ini mirip pemandangan Raja Ampat Papua. Banyak pengunjung di musim libur lebaran. Namun yang paling mengganggu adalah pasangan yang sedang sesi foto prawedding. Tak ada yang boleh mendekat mengambil foto di ujung dermaga. Pantai seakan milik mereka berdua saja.
Kami hanya kebagian di pinggir dermaga, mengambil beberapa foto karang dan selfie kami. Tak cukup lima menit kami naik kembali ke atas untuk kemudian pulang. Sungguh wisata yang sangat singkat. Namun prosesnya akan kami kenang selamanya.
Sunday, July 10, 2016
Liburan Lebaran 2016: tak jadi Toraja, Bira pun Jadi
Liburan lebaran tak melulu diisi silaturahmi,
Jadikan liburan seru dan menyenangkan bersama keluarga...
Idul Fitri 1437 H telah berakhir. Mungkin ini liburan lebaran paling seru dan menyenangkan. Jelang liburan cuti bersama lebaran, persiapan berwisata telah direncanakan. Opsi pertama adalah Tana Toraja (Tator). Kami belum pernah kesana padahal Toraja masih se-propinsi dengan tempat tinggal kami, Sulawesi Selatan. Tator adalah salah satu destinasi favorit Sulawesi Selatan, menyedihkan rasanya kami belum pernah kesana. Namun karena beberapa pertimbangan, kami urung ke Tator. Letaknya yang lumayan jauh (8 jam perjalanan dari kota Makassar) dengan membawa balita mengurungkan niatan kami ke Toraja. Belum lagi soal penginapan dan transportasi disana seandainya kami naik bus (pun kalau bus ada berhubung suasana lebaran).
Akhirnya kami batal ke Tator, dan mengalihkan tujuan wisata "hanya" ke pantai Tanjung Bira, yang "hanya" lima jam perjalanan dari Makassar. Sebelumnya kami pernah ke Bira, beberapa tahun lalu. Bira waktu itu sudah ramai pengunjung namun dengan fasilitas yang masih seadanya. Konon sekarang sudah beda dan jauh berkembang dengan fasilitas yang lengkap. Sebenarnya saya agak kecewa karena mengalihkan tujuan wisata dari Tator ke Bira, berhubung kami sudah pernah ke Bira.
Saya lebih menilai suatu perjalanan wisata dari prosesnya, bukan semata tujuannya. Perjuangan ke tempat wisata adalah suatu proses yang tak ternilai harganya, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Bagi saya perjalanan ke Bira merupakan pengalaman pertama saya mengemudikan mobil keluar daerah yang paling jauh dan lama. Bisa anda bayangkan bagaimana "tegang" dan melelahkannya.
Kami memberanikan diri ke Bira naik mobil matic "pinjaman", hal yang lumayan meringankan pekerjaan kaki selama perjalanan. Tepat jam 9 pagi kami meninggalkan rumah, perjalanan lumayan lancar tanpa macet padahal suasana mudik lebaran. Isi bahan bakar mobil 220 ribuan, full tangki. Beberapa kali kami singgah melepas lelah. Membeli bekal di minimarket dan sarapan Bakso Raksasa di daerah Gowa, jajan jagung rebus di daerah Takalar, dan Shalat Jumat di daerah Jeneponto.
Bermodalkan peta google kami menyusuri jalan sejak Bantaeng hingga tengah kota Bulukumba. Meskipun pernah ke Bira, kami tidak tahu jalan kesana, jalan di kota Bulukumba banyak persimpangannya. Kami menahan lapar nasi di tengah perjalanan, takut kesorean dan tak dapat penginapan di Bira. Perjalanan dari kota Bulukumba ke Bira sekitar satu jam perjalanan.

Tepat jam setengah empat sore, kami tiba di Bira. Macet parah di depan pintu masuk, tak dapat parkiran di area wisata. Beruntung kami mendapat penginapan yang sementara kosong, Bira Beach Hotel, mungkin penginapan paling kesohor dan paling awal di Bira. Penginapan ini pernah saya tempati beberapa tahun lalu. Kondisinya semakin buruk, seakan tak terawat dari luar, tapi fasilitas lumayan ber-AC dan ber-WC dengan satu tempat tidur. Beberapa tahun lalu penginapan ini bertarif 200an ribu rupiah, tahun 2016 ini sudah 450 ribu rupiah semalam. Lumayan murah dibanding tempat lain yang berfasilitas minim, selain lokasinya yang paling strategis di tepi pantai.

Ada sebuah resort elit di Bira, Hakuna Matata, resort baru yang berdiri megah di atas karang pantai Bira. Saya lupa dan tak perhatikan, sepertinya sebelum adanya resort ini, penginapan yang dikelola penduduk Bira berdiri berjejer di atas karang Bira. Kantong kami tak familiar untuk menyewa resort ini, kami hanya menikmati suasana sore dari restoran hotel yang juga lumayan mahal namun mengenyangkan.

Pemandangan pantai Bira dari atas karang resort ini sungguh menawan. Pantai Bira semakin indah dengan hamparan pasir putihnya. Saya dan si kecil sempat berendam sejenak di tepi pantai sebelum istirahay jelang malam. Suasana malam di pantai Bira lumayan meriah, dengan kios-kios buah tangan yang masih buka hingga malam, acara keluarga, hingga riuhnya suara petasan. Saya lelah bawa mobil, segera terlelap begitu ketemu tempat datar.

Pagi menyapa, kami berendam di tepi pantai. Ponsel dan kamera kami tinggalkan di kamar, hanya ingin bersenang-senang menikmati pantai, tak ingin diganggu gadget. Jadinya, moment main air tak terabadikan lewat foto, hanya di ingatan. Selain main air, kami naik banana boat. Tarif seratus ribu sekali main. Kami naik hanya bertiga, dua anak-anak kami tinggalkan sebentar main pasir. Kami selesai main air jam 9an, bersiap cekout kamar dan ke destinasi selanjutnya, pantai Apparalang.
Tuesday, December 22, 2015
Wisata keliling kota Makassar dengan angkot, mau?
Lagi suntuk? Coba naik pete-pete
Setelah sekian lama, akhirnya saya naik pete-pete lagi. Praktis setelah lulus kuliah dan punya motor, interaksi dengan pete-pete semakin berkurang. Bahkan saya pun tak tahu lagi berapa tarif sekali naik pete-pete. Sebelum punya tunggangan motor, pete-pete jadi alat transportasi andalan. Buat ke sekolah, pasar, mall, atau sekedar cari angin. Setelah punya tunggangan motor, pete-pete jadi musuh bebuyutan. Kalau berada di jalan, sebisa mungkin menghindari makhluk ini. Perilaku ugal-ugalan dan seenaknya dari (sebagian kecil oknum) pengemudi pete-pete jadi penyebabnya.
Hanya pete-pete yang berani singgah di tengah jalan hanya untuk menunggu penumpang. Hanya pete-pete yang tidak memberi tanda sen kalau mau berbelok. Hanya pete-pete yang lampu remnya tak jelas, soak, dan hampir mati. Hanya pete-pete yang berani memepet kendaraan lain yang coba menghalanginya. Dan berbagai hal horor lainnya. Daripada ribet berurusan dengan pete-pete, mending saya hindari. Sangat kontras memang pandangan saya akan pete-pete beberapa tahun lalu, saat sedang sekolah dan membutuhkan alat transportasi yang praktis walaupun kurang nyaman. Dulu butuh, disayang, sekarang tak butuh, dibuang.
Kadang kalau logika saya sedang jalan, saya maklumkan saja. Sopir pete-pete kebanyakan tidak membawa mobilnya sendiri, melainkan disewa dari juragan pete-pete dan mesti menyetor biaya sewa setiap harinya. Mereka butuh hidup juga, dan menghidupi keluarganya. Masalah yang kemudian timbul adalah jika pete-pete membahayakan hidup pengguna jalan lainnya.
Kali ini saya tak mau mengadili apalagi mencibir perilaku sopir pete-pete yang horor itu. Saya pun kadang berada diluar batas kendali apabila berada di jalanan, emosi, ugal-ugalan. Saya hanya mau menceritakan kebahagiaan saya naik pete-pete pagi tadi. Bukan karena mendapatkan dompet jatuh di pete-pete, tapi karena bisa bersantai di pete-pete. Walaupun macet parah dan udara panas, saya tak perlu capek-cepek menarik gas motor atau menginjak kopling motor. Berbahagialah para penumpang pete-pete yang sopir pete-petenya tidak ugal-ugalan, mereka bisa menikmati suasana kemacetan di jalan dengan caranya masing-masing.
Saya lalu berpikir, mungkin warga Makassar ataupun wisatawan yang berkunjung ke Makassar bisa menggunakan jasa pete-pete untuk keliling kota. Daripada menyewa mobil rental, mending naik pete-pete. Penikmat wisata petualangan bisa menikmati sensasi naik pete-pete, mulai dari atraksi sirkus hingga horor-horornya di jalan raya.
Namun sebelum berinteraksi lebih jauh dengan proyek travelling with pete-pete ini, perlu diketahui bagaimana ciri-ciri pete-pete dan jalurnya masing-masing. Buat yang jarang naik petepete, trayek yang ada di Makassar tentunya membingungkan, saking banyaknya!
Pete-pete merupakan sebutan dari angkutan umum yang ada di kota Makassar. Warnanya biru muda, yahhh mirip-mirip warna klub tetangga berisik Manchester City lah. Warna norak nan lembut ini dipakai agar lebih memudahkan mata calon penumpang untuk melihatnya, pun dengan mata pengguna jalan lainnya agar bisa segera menghindarinya. Pete-pete gaul tampak baru, bersih dan bermodel racing dengan ban besar dan pelek modifikasi. Tak jarang diputarkan lagu dengan volume yang agak kecang. Kalau beruntung, anda akan menemukan tv layar lebar di dalam pete-pete, dengan lagu-lagu daerah, dangdut, atau lagu malaysia. Sambil menikmati lagu yang diputar dan melihat-lihat suasana jalan, pete-pete ini membawa penumpangnya sampai tujuan.
Angkutan Pete-pete jumlahnya cukup banyak dan mudah dijumpai, sehingga kita tak perlu lagi menunggu terlalu lama, bahkan menunggu angkutan bukan di jalan besar pun tidak sampai semenit. Pete-pete ini terbagi dalam berbagai trayek yang menyelusuri sampai ke sudut-sudut kota Makassar dan sekitarnya. Hampir semua trayek berakhir di Makassar Mall (pasar sentral). Jadi sebenarnya mudah saja kalau anda hilang dan tersesat di Makassar namun kekurangan ongkos naik taksi atau naik ojek, naik saja pete-pete dan minta diturunkan di sentral, kemudian minta teman jemput disana.
Berikut daftar rute trayeknya, lengkap dengan warna stripnya:
KODE A - strip abu-abu
Berangkat :
BTN Minasa Upa (dekat perbatasan dengan Sungguminasa) - Syech Yusuf - Sultan Alauddin - Andi Tonro - Kumala - Ratulangi (Mall Ratu Indah) - Jendral Sudirman (Karebosi Timur) - HOS Cokroaminoto (Sentral) - KH. Wahid Hasyim - Wahidin Sudirohusodo - Pasar Butung
Kembali :
Pasar Butung - Sulawesi - Riburane - Achmad Yani (Balaikota) - Jendral Sudirman - Ratulangi - Landak - Veteran - Sultan Alauddin (Pasar Pabaeng-baeng) - Syech Yusuf - BTN Minasa Upa
KODE B - strip putih
Berangkat :
Terminal Tamalate - Malengkeri - Daeng Tata - Abdul Kadir - Dangko - Cendrawasih - Arief Rate - Sultan Hasanuddin - Patimura - Ujungpandang - Riburane - Jendral Achmad Yani (Balaikota) - Pasar Butung
Kembali :
Pasar Butung - Sulawesi - Achmad Yani - Kajaolalido (Karebosi Timur) - Botolempangan - Arief Rate - Cendrawasih - Dangko - Abdul Kadir - Daeng Tata - Malengkeri - Terminal Tamalate.
KODE C - strip kuning
Berangkat :
KH.Wahid.Hasyim - DR Wahidin Sudirohusodo - Buru - Bandang - Masjid Raya - Al-Markaz - Cumi-cumi - Pongtiku - Ujungpandang Baru - Gatot Subroto - Juanda - Regge – Rappokalling
Kembali :
Rappokalling - Korban 40 ribu - Juanda - Gatot Subroto - Ujungpandang Baru - Pongtiku - Datok Ditiro - Sunu - Masjid Raya - Bawakaraeng - Jenderal Sudirman - HOS Cokroaminoto - KH.Wahid Hasyim - Makassar Mall(Sentral)
KODE D - strip ungu
Berangkat :
Terminal Daya - Sudiang - Perintis Kemerdekaan - Urip Sumoharjo - AP. Pettarani - Bawakaraeng - Latimojong - Andalas - Laiya - Selatan Makassar Mall
Kembali :
Selatan Makassar Mall - HOS Cokroaminoto - Bulusaraung - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Terminal Daya
KODE E - strip coklat
Berangkat :
Terminal Panakkukang - Toddoppuli - Tamalate - Emmy Saelan - Mapala - AP. Pettarani - Maccini Raya - Urip Sumoharjo - Bawakaraeng - Latimojong - Andalas - Laiya - KH. Agus Salim - Timur Makassar Mall
Kembali :
KH. Agus Salim - Pangeran Diponegoro - Bandang - Masjid Raya - Urip Sumoharjo -AP. Pettarani - Mapala - Emmy Saelan - Tamalate - Todoppuli - Terminal Panakkukang
KODE F - strip biru tua
Berangkat :
Terminal Tamalate - Mallengkeri - Daeng Tata - Daeng Ngeppe - Kumala - Veteran - Bandang - Buru - Andalas - Satangnga - KH. Agus Salim - Timur Makassar Mall
Kembali :
KH Agus Salim - Pangeran Diponegoro - Andalas - Buru - Bandung - Veteran - Sultan Alauddin - Andi Tonro - Kumala - Daeng Ngeppe - Daeng Tata -Mallengkeri - Terminal Tamalate
KODE G - strip hijau tua
Berangkat :
Terminal Daya - Kima - TOL (Ir. Sutami) - Tinumbu - Cakalang - Yos Sudarso - Tentara Pelajar - Kalimantan - Pasar Butung
Kembali :
Pasar Butung - Kalimantan - Cakalang - Tinumbu - TOL (Ir. Sutami) - Kima - Terminal Daya
KODE H - strip hijau muda
Berangkat :
Perumnas Antang - Antang Raya - Urip Sumoharjo - Bawakaraeng - Jenderal Sudirman - DR. Wahidin Sudirohusodo - Satando - Kalimantan - Pasar Butung
Kembali :
Pasar Butung - Kalimantan - Satando - DR. Wahidin Sudirohusodo - Tentara Pelajar - Ujung - Bandang - Masjid Raya - Perumnas Antang
KODE I - strip hitam
Berangkat :
Terminal Panakkukang - Toddopuli Raya - Borong - Batua Raya - Abdullah Daeng Sirua - AP. Pettarani - Pelita Raya - Sungai Sadang Baru -Sungai Saddang - Karunrung - Arif Rate - Sultan Hasanuddin - Pattimura - Pasar Baru
Kembali :
Pasar Baru - Pattimura - Ujungpandang - Riburane - Ahmad Yani (Balaikota) - Kajaolalido - Botolempangan - Karungrung - Sungai Saddang - Sungai Saddang Baru - Pelita Raya - AP. Pettarani - Abdullah Daeng Sirua - Batua Raya - Borong - Toddopuli Raya -Terminal Panakkukang
KODE J - strip oranye/ jingga
Berangkat :
Terminal Panakkukang - Toddopuli Raya - Tamalate - Emmy Saelan - Sultan Alauddin - Andi Tonro - Kumala - Ratulangi - Jenderal Sudirman - HOS Cokroaminoto – Nusakambangan
Kembali :
Nusakambangan - Ahmad Yani - Jenderal Sudirman - DR. Sam Ratulangi - Landak - Veteran - Sultan Alaudin - Emmy Saelan - Tamalate - Toddopuli Raya - Terminal Panakkukang
KODE B1 (05) - strip putih
Berangkat :
Teminal Tamalate - Mallengkeri - Daeng Tata - Abd. Kadir - Dangko - Cendrawasih - Arif Rate - Sultan Hasanudin - Sawerigading - Botolempangan - Karunrung - Sungai Saddang - Latimojong - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Kampus Unhas
Kembali :
Kampus Unhas - Perintis Kemerdekaan - Urip SUmoharjo - Bawakaraeng - Kartini - Botolempangan - Arif Rate - Cendrawasih - Dangko - Abd. Kadir - Daeng Tata - Mallengkeri – Tamalate
KODE C1 - strip kuning
Berangkat :
Korban 40 ribu - Ujungpandang Baru - Pongtiku - Cumi-cumi - Laccukang - Sunu - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Kampus Unhas
Kembali :
Kampus Unhas - Perintis Kemerdekaan - Urip Sumoharjo - Bawakaraeng - Jenderal Sudirman - HOS Cokroaminoto - DR. Wahidin Sudirohusodo - Tentara Pelajar - Ujung - Bandang - Masjid Raya - Sunu - Teuku Umar - Gatot Subroto - Korban 40 ribu
KODE E1 (07) - strip coklat
Berangkat :
Terminal Panakkukang - Toddopuli Raya - Perumnas - Hertasning - AP. Pettarani - Kampus UNM - Gunung Sari - AP. Pettarani - Pelita Raya - AP. Pettarani - Abdullah Daeng Sirua - PLTU - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Kampus Unhas
Kembali :
Kampus Unhas - Perintis Kemerdekaan - Urip SUmoharjo - PLTU - Abdullah Daeng Sirua - AP. Pettarani - Kampus UNM - Gunung Sari - AP. Pettarani - Hertasning - Perumnas - Toddopuli Raya – Panakkukang
KODE F1 (02) - strip biru tua
Berangkat :
Terminal Tamalate - Mallengkeri - Daeng Tata - M. Tahir - Kumala - Veteran - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Kampus Unhas
Kembali :
Kampus Unhas - Perintis Kemerdekaan - Urip Sumoharjo - AP. Pettarani - Abubakar Lambogo - Veteran - Sultan Alauddin - Andi Tonro - Kumala - M.Tahir - Daeng Tata - Mallengkeri - Terminal Tamalate
Selain kode-kode diatas yang merupakan trayek umum, ternyata ada trayek lain yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Dan warna stripnyapun tak diketahui. Siapa tahu ketemu dijalan, kita bisa kenalan.
KODE K
Berangkat : Terminal Panaikang – Urip Sumoharjo – Taman Makam Pahlawan – Abdullah Daeng Sirua – Adiyaksa – Terminal Panakkukang – Toddopuli Raya – Tamalate – Emmy Saelan – Sultan Alauddin – Terminal Tamalate
Kembali : Terminal Tamalate – Sultan Alauddin – Emmy Saelan – Toddopuli Raya – Terminal Panakkukang – Adiyaksa – Abdullah Daeng Sirua – Taman Makam Pahlawan – Urip Sumoharjo – Terminal Panaikang
KODE L
Berangkat : Terminal Tamalate – Mallengkeri – Daeng Tata – Daeng Ngeppe – Kumala – Mallong Bassang – Mappaoddang – Mangerangi – Baji Ateka – Baji Minasa – Nuri – Rajawali – Penghibur – Pasar Ikan – Ujungpandang – Nusantara – Butung – Pasar Butung
Kembali : Pasar Butung – Butung – Sulawesi – Riburane – Ujungpandang – Pattimura – Somba Opu – Rajawali – Gagak – Nuri – Baji Minasa – Cendrawasih – Dangko – Abd. Kadir – Daeng Tata – Mallengkeri – Terminal Tamalate
KODE M
Berangkat : Terminal Panaikang – Urip Sumoharjo – AP.Pettarani – Rappocini Raya – Veteran – Ratulangi – Kakatua – Cendrawasih – Tanjung Alang
Kembali : Tanjung Alang -Tanjung Rangas – Cendrawasih – Kakatua – Landak – Veteran – Sultan Alauddin – AP. Pettarani – Urip Sumoharjo – Terminal Panaikang
KODE N
Berangkat : Terminal Tamalate – Sultan Alauddin – Syeh Yusuf – Jipang Raya – SMA 9 – Tidung Raya – Tamalate – Toddopuli Raya – Terminal Pakkukang
Kembali : Terminal Panakkukang – Toddopuli Raya -Tamalate – Tidung Raya – SMA 9 – Jipang Raya – Tala Salapang – Sultan Alauddin – Terminal Tamalate.
KODE O
Berangkat : Terminal Panaikang – Urip Sumoharjo – Taman Makam Pahlawan – Batua Raya – Toddopuli Raya -Pengayoman – AP. Pettarani – Urip Sumoharjo – Bawakaraeng – Veteran Utara – Bandang – Ujung – Yos. Sudarso – Tarakan – Kalimantan – Pasar Butung
Kembali : Pasar Butung – Kalimantan – Satando – Yos. Sudarso – Ujung – Bandang – Masjid Raya – Urip Sumoharjo – AP. Pettarani – Panakkukang – Adiyaksa – Urip Sumoharjo – Terminal Panaikang
KODE P
Berangkat : Terminal Panaikang – Urip Sumoharjo – AP. Pettarani – Landak Baru – Veteran – DR. Sam Ratulangi – Mappaoddang – Daeng Ngeppe – Daeng Tata – Mallengkeri – Terminal Tamalate
Kembali : Terminal Tamalate – Mallengkeri – Daeng Tata – Daeng Ngeppe – Kumala – DR. Sam Ratulangi – Landak – Landak Baru – AP. Pettarani – Urip Sumoharjo – Terminal Panaikang
KODE U
Berangkat : Pasar Pannampu – Tinumbu – Cakalang – Yos. Sudarso – Andalas – Latimojong – Bulukunyi – Rusa – Lanto Dg. Pasewang – DR. Sam. Ratulangi – Landak – Veteran – Sultan Alauddin – Terminal Tamalate
Kembali : Terminal Tamalate – Sultan Alauddin – Andi Tonro – Kumala – DR. Sam Ratulangi – Lanto Dg. Pasewang – Rusa – Bulukunyi – Latimojong – Andalas – Yos.Sudarso – Cakalang – Tinumbu – Pasar Pannampu
KODE R
Berangkat : Pasar Baru – Ujungpandang – Nusantara – Pasar Butung – Tentara Pelajar – Kalimantan – Satando -Yos. Sudarso – Ujung – Bandang – Masjid Raya – Urip Sumoharjo – Perintis Kemerdekaan – Kampus Unhas
Kembali : Kampus Unhas – Perintis Kemerdekaan – Urip SUmoharjo – Bawakaraeng – Kartini – Botolempangang – Usman Jafar - Sultan Hasanuddin – Pattimura – Pasar Baru
KODE V1
Berangkat : Terminal Daya – Paccerakkang – Mangga Tiga
Kembali : Mangga Tiga – Paccerakkang – Terminal Daya
KODE V2
Berangkat : Sudiang – KNPI – Terminal Daya
Kembali : Terminal Daya – KNPI – Sudiang
KODE V3
Berangkat : Pasar Daya – Paccerakang – Moncongloe – Pangnyangkallang
Kembali : Pangnyangkallang – Moncongloe – Paccerakang – Daya
KODE W
Berangkat : Terminal Daya – KIMA – Kapasa – SMA 6 – Ir. Sutami – Salodong – Desa Nelayan
Kembali : Desa Nelayan – Salodong – Ir. Sutami – SMA 6 – Kapasa – KIMA – Terminal Daya
Kode tiap Pete-pete bisa kita lihat di kaca depan mobilnya, di bagian sudut kiri di depan pengemudi. Warna strip pete-pete dapat dilihat di bagian samping bodi pete-pete. Tarif pete-pete beragam sesuai panjangnya jalur, tapi masih dalam kisaran Rp 4.000 sampai Rp 6.000. untuk sekali jalan.
Dengan pete-pete, hampir seluruh sudut kota dapat dijangkau, sehingga pete-pete dapat digunakan sebagai alat transportasi berwisata. Kalau berminat mencicipi "kerasnya jalan kota Makassar" dengan pete-pete, saya bisa jadi tour guide anda dengan tarif seikhlasnya. Mengenai konsep lebih jelasnya akan saya posting di kesempatan selanjutnya.
Monday, November 23, 2015
Trans Studio Makassar, Wisata Gratis Tanpa Kamera
Berwisata tanpa membawa kamera mumpuni, menyesal kemudian...
Beberapa pekan kemarin kami berwisata ke Trans Studio Makassar. Kali terakhir saya kesini sekitar tahun 2010 yang lalu bersama mantan pacar. Setelah lima tahun berlalu akhirnya menginjakkan kaki lagi di tempat ini.
Trans Studio diklaim sebagai indoor theme park kedua terbesar di Indonesia (ketiga di dunia) setelah Trans Studio Bandung. Malah sebelum Trans Studio Bandung dibangun, Trans Studio Makassar adalah indoor theme park terbesar di dunia. Theme park ini mempunyai luas 20.000 m2 dengan tinggi 20 meter. Trans Studio dibangun di area 12,7 hektar dengan investasi hingga Rp 1 triliun, diresmikan oleh Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, pada tanggal 9 September 2009 (09-09-09). Trans Studio merupakan bagian dari Proyek Trans Studio World. Di bawah pengelolaan PT. Trans Kalla, Mega Proyek ini terintegrasi dengan pusat perbelanjaan (Trans Studio Mall), supermarket, hotel, area kantor, daerah rekreasi pantai (Akkarena), dan daerah perumahan.
Trans Studio terletak di jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar. Seluas 2,7 hektar taman hiburan indoor terdiri empat zona dengan 22 fitur yang mampu menampung 5.000 orang. Trans Studio dikembangkan di bawah manajemen PT. Trans Kalla, kemitraan antara Para Group dan Kalla Group. Chairul Tanjung (CT), pendiri dan pemilik Para Group, adalah salah satu orang terkaya di Indonesia. CT adalah pemilik Bank Mega dan Stasiun Televisi, Trans Corp. Trans Corp, yang mengoperasikan stasiun televisi swasta TransTv dan Trans7, adalah stasiun televisi pertama yang memiliki theme park indoor. Di sisi lain, Kalla Grup dimiliki oleh Jusuf Kalla, Wakil Presiden Indonesia. Bersama-sama, Chairul Tanjung dan Jusuf Kalla membuat PT. Trans Kalla pada tahun 2007. Para Group bertanggung jawab untuk pendanaan dan membangun seluruh fasilitas, sementara Kalla Grup bertanggung jawab untuk menyediakan lahan. Para Group memegang 55 persen saham dan Kalla Group memegang 45 persen saham.
Konsep Trans Studio Theme Park dirancang oleh Goddard Group, sebuah perusahaan hiburan berbasis di Los Angeles yang bertanggung jawab untuk banyak atraksi di Universal Studios dan Six Flags. Proyek ini diawasi oleh Gary Goddard (CEO), Barry Kemper (Produser), dan Taylor Jeffs (Creative Director). Identitas grafis taman dirancang oleh Lee Roe.
22 fitur dan wahana hiburan di Trans Studio Makassar antara lain:
- Trans City Theater
- Studio Tour
- Grand Esia Studio View
- Hollywood Bumper Car
- Sepeda Terbang (Flying Bicycle)
- Rimba Express
- Si Bolang
- Safari Track
- Balloon House
- Karosel (carousel)
- Ayun Ombak
- Angin Beliung
- Kano Kali (river canoe)
- Mini Boom Boom Car
- Putar Petir
- Bioskop 4D (4D Theater)
- Kids Studio
- Magic Thunder Coaster
- Dragon's Tower
- Jelajah
- Dunia Lain (another world/haunted house)
Walaupun banyak wahana di TSM, namun tak semuanya bisa dinikmati. Ini karena terlalu panjang antrian di tiap wahana, apalagi kalau ada acara family gathering suatu perusahaan. Sebagai perbandingan, bisokop 4D yang menampilkan tokoh the Avengers membutuhkan waktu antri sekitar 20 menit. Di Bianglala dan boom boom car pun demikian, butuh waktu sekitar 15 menit tiap wahana. Jadi bisa di jumlah berapa lama waktu yang terbuang hanya untuk mengantri. Sungguh menguras tenaga dan emosi, apalagi kalau bawa anak kecil (yang susah mengantri). Saat ke TSM kemarin, wahana yang sempat dinikmati hanyalah Rimba Ekspress, Sepeda terbang, Safari Track, Bumper Car, Bioskop 4D, Bianglala (Grand Studio View), Carousel, dan
Karena tak semua wahana bisa dinikmati sepuasnya tanpa antri, opsi terbaik menikmati TSM sebenarnya adalah dengan foto-foto. Foto aneka wahana yang ada atau foto pengunjung yang berteriak histeris menikmati permainan. Namun jangan harap mendapatkan foto yang baik dengan kamera bawaan handphone, kebanyakan wahana gelap dan kurang cahaya. Kamera mumpuni seperti DSLR lebih cocok digunakan di dalam ruangan. Gambar yang dihasilkan kamera handphone kebanyakan buram dan gelap walaupun memakai cahaya flash. Saya menyesal tak membawa kamera mumpuni. Kapan lagi saya kemari dengan gratis. Overall, kami lumayan puas bermain di TSM, kami pulang membawa lelah dan bahagia, terima kasih main gratisannya.
Wednesday, November 4, 2015
Wisata Air Terjun Bantimurung, Gemuruh Abadi Nan Indah
Kerajaan Simbang merupakan salah satu distrik adat Gemenschaap yang berada dalam wilayah kerajaan Maros. Distrik ini dipimpin oleh seorang bangsawan lokal bergelar Karaeng. Pada sekitar tahun 1923, Patahoeddin daeng Paroempa menjadi Karaeng Simbang, beliau mulai mengukuhkah kehadiran kembali kerajaan Simbang dengan melakukan penataan dan pembangunan di wilayahnya. Salah satu program yang dijalankannya adalah dengan melaksanakan pembuatan jalan melintas Kerajaan Simbang agar mobilitas dari dan ke daerah-daerah sekitarnya menjadi lancar. Pembuatan jalan ini rencananya akan membelah daerah hutan belantara. Namun, suatu waktu pekerjaan tersebut terhambat akibat terdengarnya bunyi menderu dalam hutan yang menjadi jalur pembuatan jalan tersebut.
Karena suara gemuruh tersebut begitu keras, para pekerja tidak berani melanjutkan pekerjaan pembuatan jalan. Karaeng Simbang yang memimpin langsung proyek ini lalu memerintahkan seorang pegawai kerajaan untuk memeriksa ke dalam hutan belantara asal suara gemuruh tersebut.
Setelah sang pegawai kerajaan melakukan pemeriksaan lokasi, Karaeng Simbang lalu bertanya: “Aga ro Merrung?” (Bahasa Bugis: apa itu yang bergemuruh itu?)
“Benti, puang” (air, tuanku), jawab sang pegawai. Benti adalah bahasa bugis halus atau tingkat tinggi untuk air. Sesampainya di tempat asal suara, Karaeng Simbang terpana dan takjub menyaksikan luapan air begitu besar merambah batu cadas yang mengalir jatuh dari atas gunung. Beliau lalu berujar: “Makessingi kapang narekko iyae onroangngnge diasengi Benti Merrung!”(mungkin ada baiknya jika tempat ini dinamakan air yang bergemuruh).
Berawal dari kata Bentimerrung inilah kemudian berubah bunyi menjadi Bantimurung. Penemuan air terjun tersebut membuat rencana pembuatan jalan tidak dilanjutkan. Malah, daerah sekitar air terjun dijadikan sebagai sebuah perkampungan baru dalam wilayah Kerajaan Simbang. Kampung ini dikepalai oleh seorang kepala Kampung bergelar Pinati Bantimurung.
Saat ini, Bantimurung menjadi salah satu Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Maros, begitu pula Simbang. Sedangkan air terjun Bantimurung menjadi kawasan Wisata Alam. Air terjun ini memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter dari permukaan tanah dengan lebar 15 meter. Menggemuruh sepanjang tahun, tak peduli musim hujan ataupun musim kering, gemuruh air terjun abadi, sehingga menjadikannya tempat wisata yang sangat populer.
Selayang Pandang
Air Terjun Bantimurung merupakan obyek wisata alam di Sulawesi Selatan yang sangat terkenal dan banyak dikunjungi wisatawan. Sejak kecil, mungkin hanya inilah satu-satunya tempat wisata favorit yang ada di sekitar kota Makassar. Sebelum masuk di kawasan obyek wisata air terjun bantimurung, anda akan disambut dengan kupu-kupu raksasa dan patung monyet putih. Tepat sebelum pintu masuk akan dijumpai sederatan penjual souvenir khas Bantimurung berupa kupu-kupu yang di awetkan serta warung kedai kopi dan makanan khas daerah.
Air terjun ini memiliki lebar 20 meter dan tinggi 15 meter. Airnya yang jernih dan sejuk meluncur dari atas gunung batu dengan deras sepanjang tahun. Di bawah curahan air terjun terdapat sebuah tempat pemandian dari landasan batu kapur yang keras dan tertutup lapisan mineral akibat aliran air selama ratusan tahun. Kedalaman air di pemandian ini antara mata kaki hingga ke pinggang. Di sebelah kiri air terjun terdapat tangga beton setinggi 10 meter yang merupakan jalan menuju Gua Batu, sebelah kanan air terjun merupakan jalan menuju Gua Mimpi.
Keistimewaan
Keistimewaan kawasan ini yaitu mandi dibawah kucuran langsung air terjun, di atas batu raksasa sambil berselancar menggunakan pelampung ban yang meluncur ke bagian kolam permandian alam dibawahnya. Anda dapat juga mandi di beberapa kolam buatan sumber mata air alam pegunungan yang sangat sejuk.
Selain memiliki air terjun yang indah dan mempesona, kawasan wisata Air Terjun Bantimurung juga menjadi habitat berbagai spesies kupu-kupu yang langka, sehingga penjajah Belanda pernah menjuluki tempat ini sebagai “Kingdom of Butterfly”. Bahkan, seorang naturalis asal Inggris, Alfred Rassel Wallase, pernah tinggal di kawasan ini selama kurang lebih satu tahun (1856-1857) untuk meneliti 150 spesies kupu-kupu yang tergolong langka itu. Hingga saat ini, para pengunjung masih dapat menyaksikan indahnya warna-warni kupu-kupu dengan berbagai spesies yang berterbangan di antara bunga-bunga dan semak-belukar yang memenuhi gunung batu Bantimurung. Selain kupu-kupu yang bebas beterbangan, di dalam kawasan wisata ini terdapat pusat penangkaran pelestarian kupu-kupu yang terbesar di Indonesia
Lokasi
Air Terjun Bantimurung berada di wilayah Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.
Akses
Obyek wisata Air Terjun Bantimurung terletak sekitar 20 km dari Bandara Hasanuddin, 15 km dari kota Maros, dan 50 km dari Kota Makassar. Obyek wisata ini dapat dicapai dengan menggunakan mobil pribadi dari Kota Makassar sekitar 1 jam. Jika pengunjung berangkat dari Bandara Hasanuddin, perjalanan dapat ditempuh dengan mobil pete-pete (mikrolet) atau bus wisata sekitar 30 menit.
Harga Tiket Masuk
Untuk tahun 2015 ini, biaya tiket masuk sebesar Rp. 15.000,- untuk orang Dewasa dan Rp. 10.000,- untuk anak-anak.
Fasilitas dan Akomodasi
Di lokasi wisata ini tersedia beberapa tempat peristirahatan berupa bungalow dan wisma bagi para pengunjung yang ingin lebih lama menikmati keindahan alamnya. Di sepanjang jalan masuk ke lokasi terdapat sejumlah pedagang souvenir kupu-kupu berbentuk gantungan kunci ataupun hiasan dinding dengan harga mulai Rp 20.000.
Wednesday, October 7, 2015
Wisata Singkat Pantai Galesong
Lagi Suntuk? Ke Pantai Yuk!
Sudah pernah ke pantai Galesong? Pantai Galesong adalah salah satu objek wisata pilihan keluarga di dekat kota Makassar. Kawasan pantai Galesong terletak di Desa Tamalate, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Jaraknya sekitar 15 kilometer arah selatan dari pusat kota Makassar. Suasana pantai masih cukup tenang, jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk kota besar.
Awalnya kawasan pantai ini tidak banyak dikenal oleh masyarakat luas, namun setelah melakukan beberapa pengembangan dan perbaikan maka dibangunlah kawasan wisata ini yang menggabungkan konsep hotel, resort, dan outbond oleh pihak swasta. Beberapa fasilitas yang disediakan antara lain mobil ATV, taman outbond, skuter listrik, motor cross mini, sepeda listrik, kamar untuk menginap, restoran/ rumah makan, hingga kolam renang.
Harga tiket masuk sekitar Rp 30 ribu per orang dihari biasa, dan Rp 40 ribu per orang dihari Sabtu Minggu dan hari libur. Sangat ramah bagi kantong, dibandingkan tempat wisata permandian lain yang berharga di atas 100 ribu per orang. Disediakan pula kamar untuk menginap dengan harga standard room mulai Rp 390 ribu.
Ini adalah pengalaman pertama saya kesana pada bulan Januari yang lalu. Sebenarnya bukan dalam rangka liburan, tapi mengantar sang istri tercinta yang akan melaksanakan rapat kerja kantor disana. Bisa dibilang, ini hanya wisata singkat.
Dengan mobil rentalan, kami berangkat dari daerah Daya (bagian timur kota Makassar). Jalur yang kami lalui adalah jalan Metro Tanjung Bunga (dekat Pantai Losari), terus mengarah ke daerah Barombong. Saat itu jembatan Barombong (atau jembatan Galesong? Saya lupa) sedang diperbaiki sehingga kami harus memutar jalur melalui jalan desa tepi pematang sawah yang sempit dan tidak rata.
Seandainya jembatan Barombong bisa dilalui, sekitar lima menit saja perjalanan dari Jembatan Barombong maka sampailah di Pantai Galesong. Tapi jalan memutar membuat waktu perjalanan menjadi sekitar setengah jam, disertai kebingungan, rasa was-was dan tanya sana-sini. Namun anda yang ingin ke Pantai Galesong saat ini tak perlu khawatir, Jembatan Barombong sudah rampung dan bisa dilalui. Selain jalur Metro Tanjung Bunga, bagi anda yang berada dekat Sungguminasa Gowa dapat melalui jalur Limbung. Terserah mau lewat jalur mana, sama saja jarak dan medannya.
Berikut ini beberapa hasil jepretan kamera saya di resort Pantai Galesong.
Saat masuk ke halaman parkir resort pantai Galesong, anda akan menemukan petunjuk atau rambu-rambu yang mesti anda patuhi saat masuk berupa poster.
Peraturan tersebut juga terdapat di belakang meja resepsionis. Peraturan tersebut adalah:
- Dilarang KERAS membawa pasangan BUKAN suami istri dalam satu kamar.
- Dilarang KERAS membawa MINUMAN KERAS dan OBAT TERLARANG dalam area wisata pantai
- Dilarang MEROKOK di dalam area gedung wisata pantai
- Kecelakaan yang diakibatkan kelalaian pengunjung diluar tanggung jawab pengelola wisata pantai
- Dilarang membawa senjata tajam
- Dilarang KERAS BERJUDI di area wisata pantai
- Kehilangan atau kerusakan barang pengunjung jadi tanggung jawab pengunjung sendiri
- Dilarang membawa pulang barang milik wisata pantai
- Bagi pengunjung yang merusak barang milik wisata pantai harus bertanggung jawab.
Menurut saya peraturan ini seperti peraturan tempat wisata kebanyakan, hanya bentuk peringatan untuk diperhatikan saja, tidak jelas pula sanksi bagi yang melanggar seperti apa. Di dalam area gedung berjejer kamar untuk menginap, terdapat lukisan-lukisan absurd namun cantik di dinding gedung. Anda yang tak menginap tidak diperbolehkan masuk gedung, tapi dapat masuk melalui pintu samping yang dihubungkan langsung dengan taman bermain.
Keluar area gedung, anda akan disambut aneka patung unik, mulai dari patung bayi bersayap (penggambaran malaikat), hingga replika harimau. Entah seperti apa konsep dan tujuannya. Yang jelas, uniklah.
Namanya wisata pantai tentu ada air lautnya. Namun nilai plus dari wisata pantai Galesong ini adalah ada kolam renang air tawarnya. Di Makassar, inilah satu-satunya wisata pantai yang memiliki kolam renang. Di pinggir kolam renang ada gazebo untuk bersantai, gratis bagi pengunjung. Tapi tentunya berlaku hukum ”siapa cepat dia dapat”.
Selain itu, patung perempuan memeluk harpa (foto paling atas) paling menarik perhatian. Walaupun hanya patung, bentuk tubuhnya yang proporsional ditambah detail paha mulus dalam kain yang tersingkap berhasil membuat saya berfantasi. Berfantasi membayangkan body istri sendiri. Hehehehe...
Pantainya berpasir hitam, bukan putih. Namun tak mengapalah asal bersih. Konon di sore hari banyak pengunjung lebih memilih mandi-mandi di laut daripada di kolam renang, entahlah.
Wahana bermain berupa perahu-perahuan ini tak sempat saya naiki. Tak ada pula pengunjung yang memainkannya. Saya khawatir ini hanya hiasan saja. Sepertinya menyeramkan dan memacu adrenalin jika menaikinya.
Arena bermain anak dengan banyak permainan tentunya sangat disenangi anak-anak.Sepertinya gratis, tak dibayar lagi kalau mau digunakan.
Saat itu masih pagi, sekitar jam delapan. Jadi masih sepi, belum banyak pengunjung yang datang. Selain itu, konon para pengunjung memilih datang sore hari dibanding pagi hari. Pagi sampai siang lumayan panas dibanding siang sampai sore hari. Jadi, lebih ramai sore daripada pagi. Saya pulang sendiri setelah foto-foto, meninggalkan istri yang berRAKERria bersama teman kantornya. Pastinya, resort Pantai Galesong adalah salah satu tujuan wisata keluarga recomended di sekitar kota Makassar. Ramah bagi kantong, anak-anak, dan jombloers.
Subscribe to:
Posts (Atom)


















































