Wednesday, May 21, 2014

Pernikahan Kedua

Tak pernah terbayangkan sebelumnya dalam benak saya untuk menikah di KUA, dalam kesederhanaan. Apalagi menikah gratis, pun demikian dengan nikah massal, risih dan memalukan rasanya. Menikah harusnya penuh suka cita, yang identik dengan kemeriahan.

Tapi bayangan tersebut akhirnya mewujud. Hari itu saya menikah di KUA, tanpa kemeriahan apalagi kemewahan. Syarat sahnya sebuah pernikahan cukup dipenuhi, hanya perlu ada dua orang yang mau menikah (laki-laki dan perempuan, pastinya), ada wali dari perempuan (bisa diwakilkan oleh imam), mahar, ijab-kabul, serta dua orang saksi laki-laki, dan sahlah pernikahan kami.

Sayangnya, ini adalah pernikahan ulang, pernikahan kedua, nikah obat katanya. Syukurlah, tak perlu berlama-lama merasakan penderitaan, saya akhirnya berhasil bangun dari mimpi buruk tersebut. Rasanya? Seperti ketindihan. Semoga tidak merasakan mimpi yang sama lagi. Doa kami, semoga keluarga yang kami bina bisa langgeng, awet, sakinah mawaddah warahmah.

Wednesday, May 14, 2014

#Maaf Episode Kesekian

Kata #maaf takkan pernah cukup meredakan sedihmu. Percayalah, aku juga sangat terpuruk. Setelah ini, semoga semuanya bisa segera pulih. Demi kita, demi anak kita.

#maaf

Makassar, 14052014


Walking Alone (GreenDay)

Come together like a foot in a shoe 
Only this time I think I stuck my foot in my mouth
Thinking out loud and acting in vain
Knocking over anyone that stands in my way

Sometimes I need to apologize
Sometimes I need to admit that I ain't right
Sometimes I should just keep my mouth shut
Or only say hello
Sometimes I still feel I'm walking alone...

Walk on eggshells on my old stomping ground
Yet there's really no one left, that's hanging around
Isn't that another familiar face? 
Too drunk to figure out they're fading away

Sometimes I need to apologize
Sometimes I need to admit that I ain't right
Sometimes I should just keep my mouth shut
Or only say hello
Sometimes I still feel I'm walking alone...

Sometimes I need to apologize
Sometimes I need to admit that I ain't right
Sometimes I should just keep my mouth shut
Or only say hello
Sometimes I still feel I'm walking alone...



Friday, May 2, 2014

Pilah-Pilih Alat Kontrasepsi

Makan Sekali Sehari

Makan disaat lapar, berhenti makan sebelum kenyang. Itulah diet alami ala Rasulullah SAW. 

Ada tips sehat diet alami ala Rasulullah SAW yang bisa diterapkan dalam keseharian, makan sekali sehari. Pola makan Rasulullah itu adalah: Pagi makan 8 buah kurma dan sore makan roti dan lauknya. Selebihnya? Tidak makan berat, cuma mencicip sedikit saja.


Namun demikian, orang Indonesia menganut paham "Belum makan namanya kalau belum makan nasi". Saya termasuk penganut paham ini. Jadinya, setiap hari pasti ada nasi yang saya konsumsi. Rasanya ritual makan tidak akan sah jika tak ada nasi dalam daftar menu harian. Bahkan, nasi selalu saja lebih banyak porsinya dibanding lauk pauk yang jadi sumber protein dan lemak.


Tidak sepenuhnya salah, namun pandangan seperti ini --harus makan nasi-- sedikit keliru. Mestinya makanan pokok dikonsumsi secara seimbang, seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, mineral dan vitamin. Kebanyakan konsumsi karbohidrat (yang terkandung dalam nasi) menyebabkan penumpukan gula dalam darah apabila tidak digunakan. Pekerja berat seperti kuli bangunan cocok makan porsi nasi yang banyak karena karbohidrat penghasil energi akan dibakar seiring aktivitas yang berat-berat tersebut. Apabila konsumsi karbohidrat berlebih oleh orang kantoran yang kebanyakan duduk tenang di depan komputer seperti saya, maka karbohidrat tersebut menjadi gula darah. Suatu saat pankreas tak dapat lagi mengolahnya menjadi tenaga, akhirnya menumpuk dan jadi penyakit seperti diabetes. Orang kantoran yang banyak mikir cocoknya mengkonsumsi banyak protein sebagai asupan yang bergizi bagi kerja sel saraf dan otak.


Namun demikian, pola hidup yang berubah-ubah menjadikan saya harus pandai beradaptasi dengan kondisi. Kadang saya bekerja keras, kadang harus bekerja cerdas, tak jarang harus keduanya, bekerja keras sekaligus cerdas. Asupan makanan harus seimbang agar penyakit tidak datang. Salah satu cara adaptasi yaitu menerapkan pola makan ini, harus disiplin "makan sekali sehari".




Referensi Buku

Makan Sekali-Sehari: 
Membuat 20 Tahun Lebih Muda 
(Dr. Yoshinor Nagumo, Januari 2014)

Tahukah Anda?
• Perut lapar baik untuk kesehatan. • Bunyi perut lapar akan mengaktifkan sel-sel dalam tubuh. • Tidur setelah makan adalah waktu emas. • Menghitung kalori yang masuk tubuh adalah sia-sia. • Otak bekerja optimal saat lapar. • Gula berdampak lebih buruk daripada rokok. • Makan sekali-sehari tidak menyebabkan kekurangan gizi. • Makan berlebih justru awal dari penyakit. • Minum air pun tetap jadi gemuk. • Metabolik yang dapat memperpendek usia. • Mengurangi porsi makan dengan satu lauk, satu sayur. • Makanan sehat adalah makanan “utuh”. • Menghindari ngantuk setelah makan siang. • Memperkuat tulang tanpa mengonsumsi kalsium • Trik menghilangkan bau badan. • Membentuk tubuh dan memiliki otot yang kuat hanya dengan tidur, tanpa ke gym.

Friday, April 25, 2014

Layanan Purna Jual Sony Mobile Mengecewakan

Seorang bapak bersama pasangannya mendatangi Sony Service Centre Makassar dengan keluhan kerusakan layar Smartphone Sony nya. Saya tak melihat jelas tipe apa ponselnya, namun yang jelas tampilannya mewah, tipis dengan layar lebarnya. Setelah berdiskusi dengan CS, diputuskan untuk memperbaiki ponselnya tersebut berhubung pemakaian baru sekitar dua bulan, masih garansi. Namun beberapa saat setelah diskusi, pasangan ini harus menerima kenyataan, ponsel harus dibawa ke Jakarta dengan lama perbaikan dua bulan. Pihak cabang SSC tidak menerima perbaikan ponsel yang masih garansi, katanya itu sudah aturan dari pusat (Jakarta) kalau ponsel yang sakit harus dirawat selama dua bulan. Pasangan ini pasrah, hanya mampu menggerutu, "Tau begini, tidak kubeli ini hape!".

Kejadian seperti ini menimpa kami lebih dari tiga bulan lalu. Awal Januari 2014, Sony Xperia ZL yang dibeli dengan susah payah pada Juni 2013 akhirnya kena santet, mati-hidup sendiri, mati suri, hingga akhirnya mati total. Pihak SSC mendiagnosa kerusakan ada pada batere dan software. Ponsel harus masuk rumah sakit selama dua bulan. Tak ada pilihan, Xperia ZL yang telah kami anggap seperti anak sendiri akhirnya rela dilepas kepergiannya selama dua bulan. Selama kepergiannya, kami gonta-ganti hape dengan galaunya, kadang Samsung, Blackberry, atau Motorola.

Awal Maret, Sony kami telah di permak, telah pulih katanya. Setelah dicoba ternyata ada kerusakan lain, speaker mati total, tak bisa bersenandung dengan riang seperti sedia kala. Sepertinya ada kesalahan saat perbaikannya, mungkin tangan yang menjamah daerah vital batere terpeleset mengenai daerah terlarang lainnya, speaker! Ponsel akhirnya kami masukkan lagi ke neraka, parahnya kami harus menunggu lagi selama dua bulan, kurang asem!!

Lewat pertengahan April 2014, Sony kami akhirnya keluar kandang, total nyaris 4 bulan dia di neraka. Kecewanya kami, mengapa selama itu pihak Sonymobile memperbaiki ponsel yang secara logika bisa diperbaiki paling lama satu minggu. Begitu panjangkah antrian ponsel yang rusak di pusat sana yang hanya satu-dua orang teknisi yang memperbaikinya? Parahnya, Sony kami belum lunas karena dibeli secara kredit selama 12 bulan. Intinya, kami mencicil Sony untuk diperbaiki, bukan untuk dipakai. Ini menjadi preseden buruk bagi Sonymobile, kami (dan mungkin pecinta smartphone Sony yang senasib dengan kami) bakal kapok membeli dan setia sama Sony. Saran kami, kalau selama itu perbaikannya pihak Sonymobile bisa menyediakan ponsel pengganti untuk sementara bila tak sanggup mengganti baru. Ini demi kepuasan dan kesetiaan konsumennya.

Selamat datang kembali Sony Xperia ZL, senang melihatmu lagi setelah tertidur lama di neraka.

Tuesday, March 18, 2014

Shift Malam di UGD

Seorang ayah memangku anaknya, mendekapnya erat. Dia dikelilingi keluarganya. Selang infus masih melekat erat di tangan si anak, konon dia muntah sejak sore hingga harus dirawat. Kasih sang ayah membuat saya trenyuh. Disaat banyak ayah lain "membuang" atau tidak mengakui darah dagingnya, ayah yang ini tetap menyayangi anaknya yang "tidak normal". Si anak menderita down sindrome sejak kecil. Entah sampai kapan sang ayah memeluk anaknya, yang pasti hingga sembuh.

Di tempat tidur sebelah, masih di ruang UGD, seorang anak mendekap ibunya erat. Menancap selang infus di tangan sang ibu. Ibu ini tiba-tiba jatuh sakit, tekanan darahnya naik karena mengetahui suaminya harus dirawat. Jadilah pasangan ini dijaga oleh anaknya menginap di UGD.

Teringat anak dan istri di rumah. Sejak Khalila lahir, belum pernah saya tidur selain di sampingnya. Malam ini adalah malam pertama Khalila tidur berdua saja dengan bundanya. Saya sebenarnya tidak mau seperti ini. Namun kondisilah yang memaksa. Saya harus menuntaskan mata kuliah Epid Klinik, magang di rumah sakit untuk melihat karakteristik dan belajar penanganan pasien berdasarkan diagnosa klinisnya. Hari ini giliran jaga saya dari jam 10 malam hingga jam 7 pagi.

Menjelang subuh, jam setengah tiga pagi, seorang pemuda ditemani beberapa temannya masuk UGD. Ada anak panah (bahasa Makassar: busur) menancap di pinggangnya. Entah siapa pelaku pembusuran. Yang saya pertanyakan, mengapa mereka keluyuran sampai pagi? Mana orang tuanya?

Bakda shalat Subuh, seorang kakek masuk UGD, diantar beberapa pasang muda-mudi yang belakang diketahui sebagai penabrak sang kakek. Saya mbatin, darimana mereka pagi buta begini? Mau kemana berpasang-pasangan begitu? Untunglah mereka masih mempunyai nurani, bertanggung jawab mengantar orang yang dia tabraknya ke RS. Mungkin mereka teringat orang tuanya di rumah, betapa sedihnya mereka jika orang tuanya yang mengalami musibah, ditabrak.

Masih banyak cerita di UGD, mulai senda gurau security hingga dokter dan perawat jaga yang setia menunggui pasien, padahal mungkin keluarga mereka menunggu dengan cemas di rumah. Yah, memang mesti ada shift malam di UGD. Pagi ini saya jadi mengantuk karenanya. Semangat pagi!

Friday, February 21, 2014

Romansa Film Lone Survivor



Film terakhir yang kami tonton di bioskop adalah The Conjuring sekitar setengah tahun yang lalu, itupun saat puasa Ramadhan. Sejak Sar hamil besar hingga Khal lahir, kami tidak pernah nonton di bioskop. Tidak ada kesempatan. Kami tidak tega menitipkan Khal disaat kami bersenang-senang nonton di bioskop. Kami juga takut membawa Khal ikut menonton berhubung masih bayi dibawah umur. Kami takut telinganya yang mungil itu terkontaminasi suara bising dan berisik yang tak mampu diterimanya hingga pecah. Pertanyaan selama ini adalah: Berapa umur minimal bayi bisa menonton di bioskop? Itu adalah perkara yang berbeda dengan umur minimal bayi bisa naik pesawat. Ketakutan kami adalah masalah pendengaran bayi yang masih sangat rentan. 

Hingga tiba saatnya hari sabtu itu. Kami niatannya cuma jalan-jalan di mall. Tapi mba Ulan tiba-tiba mengajak nonton. Film yang ditaksirnya adalah Lone Survivor, film action. Padahal film yang kami taksir adalah Comic8. Berhubung ditraktir nonton, kami akhirnya ikut memilih Lone Survivor ditengah pergulatan batin antara mengajak Khal yang masih berumur 5 bulan atau tidak. Sisi materialistis menang, kami akhirnya mengajak Khal menonton. Jadilah film Lone Survivor adalah film bioskop pertama Khal.

Lone Survivor, film action yang berlatar perang Amerika-Afghanistan. Karena dibuat orang Amerika, maka pahlawannya adalah tentara Amerika. Cerita dimulai dari latihan fisik tentara khusus marinir Amerika yang sangat berat. Kemudian ada seseorang yang ditolong, bersimbah darah dari medan perang. Cerita kemudian mundur beberapa hari, seseorang inilah yang menjadi tokoh utama.

Beberapa tentara Amerika diutus untuk menghabisi seorang pimpinan Taliban. Konon bos Taliban ini sangat kejam dan telah membunuh banyak infanteri Amerika. Singkat cerita, tibalah kelompok tentara Amerika ini di sebuah desa terpencil Afghanistan yang menjadi tempat persembunyian Taliban. Mereka ditugaskan survei lokasi, mengintai dari kejauhan sambil menunggu perintah dari pusat komando. Sial, sekelompok gembala memergoki mereka. Mereka (tentara Amerika) mengalami kegalauan, opsi pertama adalah membunuh gembala tersebut yang notabene warga sipil yang secara etika tak boleh dibunuh, opsi kedua adalag mengikat mereka di hutan, tak peduli dimakan binatang buas atau ditemukan selamat oleh penduduk desa, dan opsi ketiga adalah melepaskan gembala tersebut sambil mereka mundur kembali, misi dijadwal ulang. Mereka memilih yang terakhir. Tapi dugaan mereka salah, seorang gembala ternyata mata-mata Taliban dan dengan segera melaporkan kejadian itu pada bos Taliban.

Singkat cerita, tentara Amerika ini akhirnya diketahui keberadaannya oleh pihak Taliban. Mereka akhirnya terkepung dan harus menghadapi kontak senjata. Film ini kemudian beradegan tembak-tembakan dan perang dalam belantara. Bagaimanapun hebatnya, lima orang tentara Amerika tak mampu menghadapi ratusan Taliban. Tak perlulah saya ceritakan bagaimana penggambaran heroiknya lima tentara Amerika ini menghadapi Taliban, yang jelas lebay, berapa kali ditembak tidak mati-mati. Hingga seorang penonton nyeletuk "9 nyawanya ini tentara, ditembak dan dibom tidak mati-mati". Beda jika anggota Taliban yang ditembak, sekali dor tewaslah mereka.

Akhirnya tentara Amerika bersisa satu, dia mati-matian mempertahankan hidup bersembunyi dalam hutan. Dalam suasana genting dan hampir tertangkap, tentara terakhir ini akhirnya dibantu penduduk desa yang merupakan keluarga gembala. Mereka berterima kasih kepada tentara yang tidak membunuh mereka. Balas jasa ceritanya. Di akhir cerita, tentara terakhir ini berhasil ditemukan dan diselamatkan oleh tentara bantuan dari pusat komando. Cerita film ini diadaptasi dari kisah nyata. Di slide terakhir tertampil foto asli beberapa tentara tersebut, termasuk tentara terakhir yang selamat.

Dalam studio, kami awalnya khawatir Khal rewel, berteriak dan menangis karena ketakutan dan suara bising. Tapi Sar memeluknya erat hingga tertidur. Kadang Khal tiba-tiba terbangun jika suara tembak-tembakan, dan kami refleks menjejali mulutnya dengan dot susu yang nyaris kosong sambil menepuk-nepuk pahanya hingga kembali terlelap. Lewat satu jam, Khal akhirnya terjaga, kami khawatir Khal nangis sejadi-jadinya. Susu dalam dot pun sudah hampir habis dan kami tak membawa persediaan susu formula. Biasanya seberisik apapun Khal tetap tenang asal diberi susu. Resiko terbesar kami adalah menuntaskan film lebih awal. Lebih baik pulang daripada mengganggu seisi studio karena tangisan Khal. Benar saja, Khal mulai merengek, Sar akhirnya menggendong Khal sambil berdiri. Untung kami mengambil tempat duduk paling belakang sehingga tidak mengganggu yang lain. Beruntung, Khal tenang dalam gendongan Sar. Bahkan Khal seakan menikmati filmnya dengan menggoyang-goyangkan badannya jika adegan tembak-tembakan terjadi. Kami akhirnya berhasil menuntaskan film tanpa tangisan bayi. Pengalaman yang mendebarkan. Bagaimana dengan Anda? Sudah nonton Lone Survivor? Pernah ngajak bayi nonton di bioskop?

[Makassar, 8 Februari 2013]


Gambar: sketsa foto kami bertiga di lobi bioskop, dipotret anak berusia 4 tahun. Nda nyambung sama filmya.